| dc.description.abstract | Latar belakang: Hiperglikemia merupakan keadaan meningkatnya kadar glukosa
dalam darah diatas batas normal yang memerlukan terapi antidiabetik. Pasien
diabetes melitus sering menerima beberapa jenis obat antidiabetik secara
bersamaan, sementara disfungsi ginjal dapat memengaruhi eliminasi obat,
sehingga meningkatkan risiko perubahan respons terapi melalui pergeseran
parameter farmakokinetik–farmakodinamik (FK/FD).
Tujuan: Mengetahui hasil dan evaluasi antidiabetik untuk penanganan
hiperglikemia serta pengaruh disfungsi ginjal pada pasien diabetes melitus di
RSUD Sleman
Metode: Penelitian observasional cross-sectional dengan data retrospektif pasien
diabetes melitus di RSUD Sleman periode Januari-Desember 2025. Analisis
FK-FD menggunakan software Monolix 2024R1 dan Simulx 2024R1
Hasil: Pemodelan FK-FD metformin (n=56) dan glimepirid (n=21) berhasil
dikembangkan dengan evaluasi yang baik. Pada metformin, parameter ka, k, Vd,
R0
, dan kout memiliki presisi yang baik, sedangkan pada glimepirid parameter ka,
k, R0
, dan kout baik, namun Vd dan IC50 masih memiliki RSE > 30%. Usia, jenis
kelamin, IMT, fungsi ginjal, dan kadar serum kreatinin merupakan kovariat yang
memengaruhi parameter model. Penurunan gula darah puasa pada pasien dengan
fungsi ginjal normal–ringan lebih besar dibandingkan disfungsi ginjal moderate,
yaitu 33,12±45,07 vs 16,28±59,55 mg/dL pada metformin dan 62,44±74,97 vs
22,50±34,44 mg/dL pada glimepirid. Simulasi merekomendasikan regimen
metformin 850 mg tiap 12 jam dan glimepirid 8 mg sekali sehari sebagai regimen
optimal.
Kesimpulan: Model FK-FD metformin dan glimepirid yang dikembangkan
mampu menghasilkan parameter dengan evaluasi model yang baik. Faktor yang
berpengaruh terhadap parameter FK-FD meliputi usia, jenis kelamin, indeks
massa tubuh, fungsi ginjal, dan kadar serum kreatinin. Berdasarkan hasil simulasi,
regimen metformin 850 mg setiap 12 jam dan glimepirid 8 mg sekali sehari
merupakan regimen terapi yang optimal. | en_US |