| dc.description.abstract | Penutupan TPA Piyungan menyebabkan TPS 3R di wilayah Kabupaten
Sleman mengalami kendala dalam membuang sampah residu, sehingga
berisiko memicu praktik tata kelola yang tidak ramah lingkungan. Padahal,
sampah residu hasil pemrosesan mesin cacah pilah (gibrik) didominasi oleh
material mudah terbakar yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan
menjadi energi alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui komposisi sampah, hasil uji proksimat (kadar air,
kadar abu, kadar volatil, dan karbon tetap), serta nilai kalor dari sampah residu
mesin gibrik guna menganalisis potensinya sebagai bahan baku RDF di TPS
3R wilayah Kabupaten Sleman. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi
(TPS 3R Brama Muda, TPS 3R Randu Alas, dan TPS 3R Bening) selama 3
hari dengan metode simple random sampling. Pengukuran komposisi sampah
mengacu pada SNI 19-3964-1994, sedangkan pengujian proksimat dan nilai
kalor mengacu pada standar American Standard Testing and Materials
(ASTM) menggunakan alat bomb calorimeter. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa komposisi sampah residu sangat didominasi oleh plastik dengan
persentase rata-rata mencapai 91,14%. Berdasarkan uji proksimat, sampel
memiliki karakteristik yang sangat ideal dengan kadar air yang sangat rendah
(0,53%–1,74%), kadar abu yang rendah (6,19%–10,04%), kadar volatil yang
sangat tinggi (87,51%–93,00%), dan kadar karbon tetap (0,29%–0,70%).
Pengujian nilai kalor menghasilkan tingkat energi yang tinggi, berkisar antara
6.843,31 Kkal/kg hingga 7.076,05 Kkal/kg. Seluruh parameter tersebut telah
memenuhi standar kualitas RDF nasional maupun internasional. Secara
keseluruhan, sampah residu dari mesin gibrik di TPS 3R Kabupaten Sleman
berpotensi tinggi dan sangat ideal untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku
RDF. | en_US |