Evaluasi Terapi Kegawatdaruratan Hiperglikemia dan Hipoglikemia pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman
Abstract
Latar belakang: Tingginya kejadian diabetes melitus meningkatkan risiko terjadinya
komplikasi akut diabetes melitus. PERKENI menjadi salah satu pedoman tata laksana
krisis hiperglikemia dan hipoglikemia, tetapi evaluasi kesesuaian praktik terhadap
pedoman tersebut belum pernah dilakukan.
Tujuan: Mengetahui profil, kesesuaian terapi kegawatdaruratan, hasil kontrol
glikemik, serta hubungan terapi dan kesesuaiannya berdasarkan PERKENI dengan
hasil terapi pasien.
Metode: Studi observasional deskriptif retrospektif potong lintang menggunakan
rekam medis krisis hiperglikemia dan hipoglikemia periode 2022–2025. Data
dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, serta
Fisher's Exact Test (p<0,05) menggunakan RStudio.
Hasil: Pada KAD (n=43) mayoritas mendapat cairan isotonis (95,3%), dengan dosis
1–2 liter (42%), insulin rapid acting (98%) secara intravena (90,7%), tetapi 91% dosis
insulin melebihi rekomendasi, sehingga hanya 9% sesuai. Pasien hipoglikemia (n=56)
umumnya ditangani D40% pada kasus sedang-berat dan D10% pada kasus ringan,
dengan kesesuaian D10% 150 mL hanya 3%. Dosis insulin terbukti berhubungan
secara statistik dengan penurunan KGD jam ke-1 (p=0,030).
Kesimpulan: Terapi KAD dan hipoglikemia secara garis besar mengikuti PERKENI
2022. Dosis insulin menjadi satu-satunya variabel yang bermakna secara statistik
dengan penurunan KGD jam ke-1, sementara variabel lain tidak menunjukkan
hubungan secara statistik, kemungkinan karena keterbatasan sampel.
Collections
- Pharmacy [2101]
