Show simple item record

dc.contributor.authorDermawan, Indra
dc.date.accessioned2026-08-19T05:15:44Z
dc.date.available2026-08-19T05:15:44Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/66157
dc.description.abstractIndustri manufaktur komposit karbon memiliki potensi risiko kecelakaan kerja yang tinggi akibat keterlibatan bahan kimia berbahaya, peralatan mekanis, serta partikel debu serat karbon. PT. Yogya Aero Komposit Industri mencatat 66 kasus kecelakaan kerja dalam enam bulan terakhir, meliputi tertimpa cetakan, tergores material, terpapar bahan kimia, hingga kelelahan fisik dan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta merumuskan rekomendasi pengendalian risiko yang tepat di PT. Yogya Aero Komposit Industri dengan menerapkan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) dan Job Safety Analysis (JSA). Evaluasi dilakukan pada enam tahapan produksi: persiapan cetakan, prepare material, lay-up serat karbon, vacuum infusion, trimming, dan finishing. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara ahli HSE, dan pengamatan lapangan. Hasil identifikasi menemukan 16 potensi bahaya, dengan rincian risiko sebesar 18,75% kategori tinggi (high risk), 25% sedang (moderate risk), dan 56,25% rendah (low risk). Aktivitas dengan risiko tertinggi diidentifikasi pada proses vacuum infusion dan trimming. Rekomendasi pengendalian risiko disusun berdasarkan prinsip hierarchy of control. Setelah penerapan rekomendasi tersebut, seluruh aktivitas dengan kategori risiko tinggi berhasil diturunkan menjadi kategorisedang atau rendah.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKeselamatan dan Kesehatan Kerja, HIRADC, JSA, Risiko Kerja, Komposit Karbonen_US
dc.titleAnalisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menggunakan Metode HIRADC dan JSA di PT. Yogya Aero Komposit Industrien_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM19522280


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record