Coping terhadap Stres pada Wanita Single Parent karena Kematian Pasangan
Abstract
Kematian suami atau istri memiliki nilai perubahan kehidupan yang paling tinggi dibandingkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan individu selaku pihak yang ditinggalkan (Atkinson, Atkinson, dan Hilgard. 1996). Dalam peristiwa kematian pasangan hidup, pasangan yang ditinggalkan memerlukan penyesuaian diri untuk dapat membantu anak-anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab di dalam masyarakat, serta mencapai dan memelihara kepuasan dalam pekerjaan, terlebih ketika peristiwa ini terjadi dengan penyebab yang tidak duga dan proses yang sangat singkat. Menjadi single parent sebagai situasi yang khusus sekaligus ekstrim dan menantang bagi seorang wanita. Pada umumnya, wanita yang menjadi single parent terlebih dahulu melewati masa-masa yang penuh stres (stressful), ketakutan, dan rasa bersalah dari kejadian-kejadian traumatis yang dialaminya, kemudian menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru, serta tanggung jawab yang lebih besar terhadap keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui coping terhadap stres yang dilakukan oleh wanita single parent. selain itu, guna menemukan gambaran stres dan stressor yang muncul. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode observasi dan wawancara sebagai metode pengumpulan data. Responden penelitian berjumlah dua orang dan dua orang informan. Dari analisis data yang dilakukan, diketahui bahwa subyek mengalami gejala suasana hati (kecemasan, menangis, melamun, nafsu makan berkurang) dan gejala fisik (lutut lemas tiba-tiba, kelelahan, penurunan berat badan). Stres bersumber dari diri sendiri, keluarga, komunitas atau pekerjaan, dan gangguan sehari-hari. kedua subyek menggunakan kedua bentuk coping (problem focused coping and emotion focused coping). Kepribadian dan lingkungan mempengaruhi coping terhadap stres pada wanita single parent.
Collections
- Psychology [1337]
