Show simple item record

dc.contributor.authorJayanti, Diana Putri Dwi
dc.date.accessioned2026-08-08T08:26:14Z
dc.date.available2026-08-08T08:26:14Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/65841
dc.description.abstractPenelitian ini mengkaji bagaimana tingkat keketatan dan kelengkapan struktur institusi dalam dokumen perjanjian North Sea Link membentuk pola interaksi antar aktor. Permasalahan utama berfokus pada sejauh mana aturan dalam perjanjian tersebut bersifat mengikat serta bagaimana kelengkapan strukturnya tersusun dalam membingkai tindakan. Penelitian ini menggunakan kerangka Institutional Grammar Tools (IGT) yang dikembangkan oleh Elinor Ostrom untuk menganalisis komponen A(B)DICO dan Seven Rules Types dalam teks perjanjian. Argumen penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keketatan institusi cenderung rendah karena tidak ditemukannya komponen Or else, sehingga pada awalnya struktur diasumsikan tidak sepenuhnya lengkap. Namun, temuan penelitian mengungkap bahwa perjanjian ini terdiri atas 49 norms dan satu shared strategy, tanpa rules yang bersifat memaksa. Meskipun demikian, struktur perjanjian secara keseluruhan tetap lengkap, dengan dominasi Choice Rules yang bersifat operasional. Dengan demikian, perjanjian ini menunjukkan bahwa keteraturan interaksi tidak semata bergantung pada paksaan, melainkan juga dapat terbentuk melalui susunan norma yang terarah dan saling melengkapi.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectNorth Sea Linken_US
dc.subjectInstitutional Grammar Toolsen_US
dc.subjectDesain Institusionalen_US
dc.subjectPrediktabilitasen_US
dc.titleInstitusi Kerja Sama Energi Antara Inggris dan Norwegia Melalui North Sea Link Tahun 2021en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22323213


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record