Analisis Performansi Rantai Pasok melalui Model Hybrid SCOR 11.0-System Dynamics (Studi Kasus: Batik Puspa Kencana Laweyan)
Abstract
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia khususnya di Jawa sejak lama. Sehak penetapan batik sebagai warisan dunia pada tanggal 2 Oktober 2009 oleh UNESCO, permintaan akan Batik di Indonesia semakin meningkat dan menyebabkan persaingan dalam industri batik semakin tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu, perusahaan yang bergerak dalam industri batik harus mampu menjaga dan meningkatkan performansiny, salah satunya dari segi rantai pasok. Untuk mengetahui apakah rantai pasok sebuah perusahaan tersebut sudah berjalan dengan baik adalah dengan mengukur performansinya dengan menggunakan Supply Chain Operations Reference (SCOR 11.0). SCOR merupakan sebuah model yang dikembangkan oleh sebuah lembaga non profit yaitu supply chain council untuk mengukur performansi rantai pasok. Pengukuran performansi sebuah rantai pasok pada model SCOR menggunakan lima atribut yaitu Reliability, Responsiveness, Cost, Agility dan Asset management. Namun, SCOR merupakan alat yang bersifat statis yang tidak bisa melakukan analisis dinamis. Kekurangan dari SCOR ini kemudian diakomodasi oleh system dynamics sehingga terbentuk Model hybrid SCOR-system dynamic. Model hybrid SCOR-system dynamics merupakan penggabungan dari dua metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran performansi dimana pengukuran dengan model SCOR dilakukan dengan menggunakan atribut dan system dynamic menggunakan perilaku dalam hal ini adalah variabel pada setiap atribut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur performansi dari rantai pasok sehingga dapat dilakukan evaluasi dan peningkatan performansi. Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan hasil yaitu reliability 98,87%, responsiveness 61%, agility 122%, cost 72%, asset management 67%. Berdasarkan hasil tersebut, kemudian dilakukan dua eksperimen untuk meningkatkan performansi dari responsiveness yaitu dengan menghilangkan pecorekan dan menggunakan mesin feeder. Berdasarkan hasil eksperimen didapatkan bahwa terdapat peningkatan pada responsiveness yaitu meningkat menjadi 74% untuk penggunaan mesin feeder dan meningkat 84% untuk penghilangan pencorekan.
Collections
- Industrial Engineering [3109]
