Penyeimbangan Waktu Siklus Produksi dengan Assembly Line Balancing Metode Pendekatan Wilayah (Region Approach) dan Linear Programming (Studi Kasus di Sogan Batik Rejodani, Sleman, Yogyakarta)
Abstract
Permasalahan line balancing di semua metode yang disebutkan di atas adalah berorientasi pada minimalisasi jumlah kerja dan mengurangi biaya operasional atau biaya tugas. Metode ini dapat baik digunakan di jalur pengalihan mana elemen sebaiknya dilakukan oleh mesin produksi. CV. Sogan Batik Rejodani merupakan industri kecil menengah (IKM) yang aktivitasnya berkaitan dengan pembuatan pakaian berbahan dasar batik cap dan batik tulis. Dalam aktivitas produksinya SBR mengalami kesulitan dalam pemenuhan order. Hal ini disebabkan oleh WIP atau bottleneck yang terjadi dibanyak stasiun kerja pada proses produksi sehingga perlu dihilangkan atau dikurangi beban kerja yang tidak merata dan kemampuan pekerja yang terbatas membuat pihak SBR tidak mempunyai usaha yang tepat untuk memenuhi order yang sangat banyak dalam waktu yang singkat. Melalui pendekatan metode ALB yang dilakukan pada produk yang dikategorikan family product dan penerapan 5S yang berasal dari konsep lean manufacturing diketahui beban kerja yang terjadai tiap tiap stasium tidaklah seimbang diketahui berdasarkan effisiensi lintasan yang hanya mencapai 36.16 % , smoothing index yang mencapai 261.33, balance delay 65.46% menyebabkan L/T produksi yang sangat lama belum lagi terkendala dalam pemenuhan order yang materialnya selalu out of stock, dengan idle time(menit) sebesar 673.32 menit membuat orderan yang tidak bisa dikirim tepat waktu yang telah disepakati diawal pre order oleh konsumen. Durasi aktual waktu operasi seluruh proses adalah 334.96 menit dengan output produksi 3(unit/hari) dan 74(unit/bulan), Melalui pendekatan implementasi 5S didapatkan hasil waktu proses turun menjadi 302.89 menit turun sebera 32.07 menit dalam operasi keseluruhan. Salah satu operasi pengambilan undian dihilangkan didalam operasi aktualnya guna menigkatkan waktu operasi kerja yang pengambilan undian kerja untuk dept.penjahitan membutuhkan waktu 0.52 menit dalam waktu sepi orderan. Penerapan 5s kurang menjadi efektif karena effisiensi lintasan produksi masih berada pada 36.16 % , smoothing index yang mencapai 261.33, balance delay 65.46% menyebabkan L/T % dan berdasarkan hasil tersebut beban kerja tetap saja tidak merata, melalui pertimbnagan tersebut dengan implementasi ALB dengan menggunakan metode peyeimbangan wilayah yang menggabungkan elemen-elemen kerja yang dapat dikaitkan dengan elemen kerja lain walau berada dalam depertemen kerja yang berbeda.naiknya effiensi kerja menjadi 82.52% Smoothing Index yang turun menjadi 56.098, Balance Delay turun menjadi 17.48%, Idle time (menit) 75.28,Output Produksiyang naik menjadi 4 (unit/hari) dan 84 (unit/bulan) bahkan melalui precedence diagram stasiun kerja direduksi menjadi 4 stasiun kerja yang lintasan produksi actual adalah 8 stasiun kerja.
Collections
- Industrial Engineering [3109]
