| dc.description.abstract | Latar Belakang: Kabupaten Kuningan memiliki potensi besar dalam produksi
madu, namun pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatannya sebagai bagian
dari pengobatan nabawi masih relatif rendah. Masyarakat umumnya mengenal
madu hanya sebagai pemanis alami dan belum memahami manfaat kesehatannya,
seperti efek antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, serta perannya dalam
membantu proses penyembuhan. Faktor sosiodemografi diduga memengaruhi
tingkat pengetahuan masyarakat.
Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat, serta menilai faktor-faktor
yang memengaruhi tingkat pengetahuan tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif deskriptif dengan
melibatkan 120 responden usia 18-64 tahun di Kecamatan Kuningan. Sampel
dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui
kuesioner skala guttman dan dianalisis secara univariat serta bivariat
menggunakan uji Chi-square, Fisher’s Exact dan Spearman Rank.
Hasil: Tingkat pengetahuan masyarakat kecamatan kuningan tentang pengobatan
nabawi berbasis madu tergolong baik sebesar 67,5%, sedang 22,5%, dan buruk
10,0%. Terdapat hubungan signifikan antara pendidikan dengan tingkat
pengetahuan (p<0,05), sedangkan usia, jenis kelamin dan pekerjaan tidak
menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05).
Kesimpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengobatan nabawi
berbasis madu sebagian besar berada pada kategori baik. Faktor pendidikan
memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan masyarakat,
sedangkan usia, jenis kelamin dan pekerjaan tidak memiliki pengaruh signifikan. | en_US |