Show simple item record

dc.contributor.authorAzkia, Retno
dc.date.accessioned2026-07-31T07:45:14Z
dc.date.available2026-07-31T07:45:14Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/65313
dc.description.abstractLatar Belakang: Resistensi bakteri Staphylococcus aureus akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional mendorong pemanfaatan bahan alam seperti Pegagan dan Kelakai sebagai alternatif antibakteri alami. Kelarutan ekstrak yang rendah dapat diatasi dengan SNEDDS (self-nano emulsifying drug delivery systems) dengan basis minyak zaitun untuk memperbaiki kelarutan senyawa, membantu meningkatkan permeabilitas kulit sehingga meningkatkan penetrasi sediaan. Nanohidrogel digunakan agar zat aktif lebih stabil dan mudah menembus kulit. Tujuan: untuk mengembangkan formulasi sediaan topikal nanohidrogel berbasis SNEDDS dengan fase minyak zaitun yang mengandung kombinasi ekstrak Pegagan dan Kelakai, dan menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri S. aureus . Metode Penelitian: Ekstraksi kedua tanaman dilakukan menggunakan metode sonikasi dengan pelarut etanol 96% dan diidentifikasi menggunakan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Formulasi SNEDDS dibentuk dengan fase minyak zaitun, surfaktan, ko-surfaktan dan kombinasi ekstrak pegagan serta kelakai, kemudian dievaluasi meliputi ukuran partikel, persentase transmisi, pH, dan uji stabilitas. Selanjutnya, nanohidrogel dibuat dengan menggabungkan basis gel dan formulasi SNEDDS pada berbagai konsentrasi, lalu dievaluasi aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar dan zona hambat dianalisis menggunakan jangka sorong. Hasil : Ekstrak pegagan mengandung flavonoid, saponin, triterpenoid, fenol dan tanin sedangkan kelakai mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, fenol dan tanin. Aktivitas antibakteri ekstrak paling baik ditunjukkan kombinasi peagagan:kelakai (90%:10%) dengan zona hambat 2,6 mm. SNEDDS formula 1 (F1) menunjukkan sifat fisikokimia yang terbaik diantara 5 formulasi lainnya, dengan persentase transmitan 82,2%; ukuran partikel 19,3 nm; PI 0,440 dan zeta potensial -32,4 mV. Selain itu, memiliki efek antibakteri dengan zona hambat 6,8 mm dan dipilih untuk diformulasikan ke sediaan nanohidrogel. Namun, nanohidrogel dengan konsentrasi SNEDDS 1%, 1,5%, dan 2% tidak menunjukkan efek antibakteri. Kesimpulan : Kombinasi ekstrak pegagan dan kelakai terbukti memiliki efek antibakteri lebih baik daripada ekstrak tunggal. SNEDDS mampu meningkatkan aktivitas antibakteri ekstrak. Sediaan nanohidrogel menunjukkan stabilitas yang baik.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectNanohidrogelen_US
dc.subjectSNEDDSen_US
dc.subjectPegaganen_US
dc.subjectKelakaien_US
dc.subjectAntibakterien_US
dc.titleFormulasi Sediaan Topikal dan Pengujian Antibakteri Nanohidrogel SNEDDS Kombinasi Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) dan Kelakai (Stenochlaena palustris)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22613169


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record