| dc.description.abstract | Uji disolusi adalah salah satu evaluasi penting yang harus dilakukan pada sediaan tablet. Sifat fisikokimia obat dan jenis sediaan merupakan hal yang harus diperhatikan untuk menentukan metode pengujian disolusi dan kondisi selama pengujian. Hal yang dapat mengontrol disolusi obat yaitu antara lain sifat fisika kimia obat, bentuk sediaan, tipe alat, dan medium disolusi yang digunakan. Hasil uji disolusi ini dapat menggambarkan korelasi hubungan antara in vitro dan in vivo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh medium disolusi terhadap profil dan kinetika pelepasan obat famotidin dalam sediaan gastroretentive. Alat disolusi yang digunakan adalah tipe 2 USP (paddle).Medium disolusi yang digunakan 2 macam yaitu HCl 0,1 N dan simulated gastric fluid tanpa pepsin. Temperatur uji 37° 0,5°C, dan kecepatan pengadukan 50 rpm. Sampling diambil sebanyak 5,0 mL pada menit ke-5, 10, 15, 30, 45, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 270, 300, dan 360. Setiap pengambilan sampel, medium diganti dengan yang baru dengan volume dan suhu yang sama. Sampel disaring kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri UV/Vis pada λ max. Untuk membandingkan profil disolusi dari ke dua medium disolusi, digunakan parameter similarity factor (f2). Data disolusi juga dianalisis menggunakan beberapa parameter kinetika pelepasan, antara lain, zero order, first order, Higuchi release, Hixon-Crowell cube root, dan korsmeyer peppas untuk menentukan orde kinetika pelepasannya. Hasil uji disolusi diketahui bahwa profil disolusi tidak dipengaruhi oleh perbedaan medium (HCl 0,1 N dan simulated gastric fluid tanpa pepsin) dengan nilai similarity factor (f2) > 50 dan perbedaan medium juga tidak mempengaruhi kinetika pelepasan famotidine dari sediaan gastroretentive. Kinetika pelepasan famotidine mengikuti orde nol dengan mekanisme pelepasan secara difusi yang lebih dominan. | en_US |