| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kapasitas teknologi dan
kemampuan penanggulangan bencana vulkanik di antara negara-negara vulkanik dunia,
dengan Indonesia sebagai kasus sentral. Latar belakang penelitian adalah fenomena digital
divide dalam konteks kebencanaan, di mana kesenjangan teknologi antarnegara berimplikasi
langsung pada perbedaan kapasitas mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan bencana.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif berbasis data sekunder tahun
2024 dari tujuh sumber utama, meliputi World Risk Index (WRI), Network Readiness Index
(NRI), Global Innovation Index (GII), GDP per kapita World Bank, INFORM Risk Index,
Smithsonian GVP, dan EM-DAT CRED, dengan sampel 55 negara vulkanik. Metode analisis
meliputi analisis kuadran, regresi Ordinary Least Squares (OLS), korelasi Pearson, dan gap
analysis per fase Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 dengan negara
benchmark Jepang, Selandia Baru, dan Islandia.
Hasil analisis menempatkan Indonesia pada kuadran Waspada (NRI 53,84; WRI 41,13).
Korelasi Pearson antara NRI dan Lack of Coping Capacities menghasilkan r = −0,55 (p <
0,001), dengan model regresi Y = 69,01 − 0,85X dan R2 = 0,307. Residual positif Indonesia
sebesar +27,70 poin mengonfirmasi paradoks digital divide: kapasitas penanggulangan
bencana Indonesia jauh di bawah prediksi model berdasarkan modal teknologi yang
dimilikinya. gap analysis mengidentifikasi ketertinggalan sistemik di seluruh fase Sendai,
dengan gap terbesar pada fase pemulihan (0,42) diikuti respons (0,36), mitigasi (0,29), dan
kesiapsiagaan (0,13). Penelitian merekomendasikan empat prioritas kebijakan: penguatan
fondasi ekonomi untuk pemulihan, perbaikan tata kelola kelembagaan, peningkatan
infrastruktur mitigasi, dan integrasi teknologi ke sistem kesiapsiagaan daerah terpencil.
Keterbatasan utama penelitian ini adalah sifat analisis yang asosiatif dan bukan kausal serta
bertumpu pada data agregat tingkat negara. | en_US |