Hubungan antara Konsep Diri dengan Kebermaknaan Hidup Penyandang Cacat
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan kebermaknaan hidup pada penyandang cacat. Dugaan awal yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara konsep diri dengan kebermaknaan hidup pada penyandang cacat. Semakin positif konsep diri, semakin tinggi kebermaknaan hidup pada penyandang cacat. Sebaliknya, semakin negatif konsep diri, semakin rendah pula kebermaknaan hidup penyandang cacat. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 orang penyandang cacat yang bekerja di Yayasan Penyandang Cacat MANDIRI CRAFT berusia 1951 tahun, yang terdiri dari 73,5% laki-laki dan 26,5% perempuan. Pengukuran terhadap subjek dilakukan melalui kuisioner yang di dalamnya memuat skala kebermaknaan hidup dan skala konsep diri. (1) Skala kebermaknaan hidup yang merupakan adaptasi dari Life Regard Index (LRI) milik Battista dan Almond (Leath, 1999; Nickels dan Steward, 2000) serta Sense of Cohence (SOC) milik Antonovsky (Leath, 1999) terdiri dari 29 aitem dengan koefisien korelasi aitem total bergerak antara 0,319- 0,667 serta koefisien alpha sebesar 0,891. Sementara itu, (2) skala konsep diri penyusunannya berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Berzonsky (Febrianto, 2009) terdiri dari 30 aitem dengan koefisien korelasi aitem total bergerak antara 0,251-0,725 serta koefisien alpha sebesar 0,913. Hasil analisa data korelasi product moment Pearson menunjukkan r = 0,689 dengan p = 0,000 (<0,01). Artinya, ada hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri dengan kebermaknaan hidup pada penyandang cacat. Jadi hipotesis penelitian diterima.
Collections
- Psychology [1337]
