Analisis Mikroplastik PM2.5 dan PM10 Pada Udara Ambien di TPST Sendangsari, Yogyakarta
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi partikulat (PM2.5 dan
PM10) serta karakteristik mikroplastik pada udara ambien di sekitar Tempat Pengolahan
Sampah Terpadu (TPST) Sendangsari, Kabupaten Sleman. Pengambilan sampel dilakukan
di empat lokasi berbeda, yaitu TPST Sendangsari, SPPG Sendangrejo, Denokan, dan SD 2
Dalangan untuk melihat sebaran polutan dari sumber emisi ke pemukiman. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa TPST Sendangsari merupakan lokasi paling tercemar dengan
konsentrasi PM2.5 mencapai 59,65 μg/m3, yang telah melampaui baku mutu nasional (55
μg/m3), sedangkan konsentrasi PM10 di seluruh titik masih memenuhi standar lingkungan.
Selaras dengan data partikulat, kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan di TPST
Sendangsari, yakni sebesar 0,4626 partikel/m3 (918 partikel) pada PM10 dan 0,3450
partikel/m3 (684 partikel) pada PM2.5. Karakteristik mikroplastik didominasi oleh bentuk
fragment dan warna hitam serta transparan, dengan rentang ukuran berkisar antara 0,01 mm
hingga 2,01 mm. Dominasi bentuk fragment mengindikasikan adanya degradasi sekunder
dari sampah plastik makro yang belum terolah sempurna dalam proses Refuse Derived Fuel
(RDF). Analisis FTIR pada sampel PM2.5 di lokasi SPPG berhasil mengidentifikasi polimer
Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE), yang ditandai oleh gugus fungsi alkana
(CH_2) pada bilangan gelombang 2916,37 cm-1 dan 2846,93 cm-1
. Faktor meteorologi
teridentifikasi sebagai penggerak utama dinamika polutan; tekanan udara rendah (740,9
mmHg) dan suhu tinggi (31°C) di area TPST memicu pelepasan partikel ke atmosfer,
sementara kecepatan angin hingga 6 m/s berperan dalam transportasi polutan menuju
pemukiman. Sebaliknya, kelembapan tinggi (90%) memicu deposisi basah sebagai
mekanisme pembersihan alami (natural scavenging).
Collections
- Environmental Engineering [1887]
