Bertahan dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Abstract
Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif studi kasus, penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan faktor- faktor yang berperan dalam upaya mereka bertahan dalam pernikahannya selama beberapa saat sampal memutuskan untuk berpisah. Responden penelitian adalah dua orang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan karakteristik berusia antara 20 sampai 50 tahun, sudah menikah minimal tiga tahun dan pernikahan tersebut menghasilkan keturunan, serta pendidikan terakhir minimal SMA. Data dieksplorasi dengan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dan observasi terhadap dua orang responden penelitian. Interview juga dilakukan terhadap significant other masing-masing responden (orang tua, suami) dan informan responden (teman kerja, polisi, dan penyidik). Observasi dan wawancara dilaksanakan di tempat tinggal responden. Data didokumentasikan dalam bentuk verbatim kemudian dianalisis dengan teknik coding dan intregative diagram. Hasil penelitian secara umum terungkap bahwa latar belakang keluarga responden yaitu orangtua responden pernah mengalami KDRT kemudian bercerai dan dari keluarga lengkap. Nilai-nilai yang dianut orangtua responden yaitu bercerai sebagai sebuah jalan keluar dan memandang keutuhan rumah tangga sebagai faktor yang sangat penting. Dua faktor Inilah diketahui sebagai pendorong responden untuk bertahan dalam pernikahannya sebelum pada akhirnya memutuskan
bercerai. Eksplorasi data penelitian diketahui bahwa (1) orangtua responden memutuskan berpisah saat responden masih kelas tiga SD. Saat orangtua responden berpisah, responden harus tinggal bergantian diantara rumah ayah dan ibu responden. Ketika responden sedang tinggal bersama ayahnya, responden harus mencuci baju sendiri dan mencucikan baju ayahnya, kemudian responden juga harus memasak makanan untuk responden dan ayahnya. Hal ini dirasakan responden sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga ketika mengalami KDRT responden bertahan dalam pernikahannya karena tidak ingin anak responden merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan seperti yang dirasakan responden. Responden tidak memiliki pekerjaan sehingga memiliki ketergantungan ekonomi terhadap suaminya. Responden merasa tidak aman secara ekonomi jika berpisah dengan suaminya karena tidak memiliki pekerjaan apapun sebagai sumber penghasilan. Oleh karena itulah, responden memilih bertahan dalam rumah tangganya. Setelah responden memiliki pekerjaan, responden kemudian berani memutuskan Ingin bercerai dari suaminya. (2) pada responden lainnya, kemapanan ekonomi responden tidak membuat responden memutuskan berpisah dari suaminya walaupun sering dipukul oleh suami responden. Responden memiliki pekerjaan yang tetap dan mapan sebagai pegawai pemerintahan. Responden tetap bertahan dalam pemikahannya karena menganggap kekerasan yang dilakukan suaminya sebagai sisi negatif yang dimiliki suaminya. Responden percaya bahwa suaminya masih memiliki sisi positif dalam bentuk perhatian dan rasa sayang suami kepada responden. Akan tetapi, saat responden mencapai satu titik tertentu dimana responden merasa suaminya tidak menyayanginya lagi dengan mengatakan ingin bercerai dari responden, maka responden kemudian memutuskan untuk bercerai dari suaminya. Keputusan untuk berceral juga didukung oleh sikap mertua yang cenderung menyalahkan responden atas konflik yang muncul antara responden dan suaminya.
Collections
- Psychology [1337]
