Pemantauan Clinical Outcome Penggunaan Obat Pada Pasien Dengan Gangguan Tiroid di RSA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Abstract
Latar belakang: Gangguan tiroid merupakan kondisi klinis dengan prevalensi
tinggi yang berisiko komplikasi bila tidak ditangani optimal. Pemantauan clinical
outcome berdasarkan regimen pengobatan penting untuk memastikan efektivitas
dan keamanan terapi.
Tujuan: Menganalisis pengaruh karakteristik pasien dan potensi interaksi obat
terhadap clinical outcome penggunaan obat gangguan tiroid.
Metode: Studi cross-sectional retrospektif menggunakan data rekam medis.
Efektivitas terapi dinilai berdasarkan FT4 dan TSH, ROTD diidentifikasi melalui
keluhan pasien atau parameter objektif, serta potensi interaksi obat mayor ditelusuri
menggunakan drugs.com dan UpToDate Lexidrug. Analisis dilakukan dengan uji
Chi-Square dan regresi logistik (p<0,05).
Hasil: Sebanyak 149 pasien hipertiroid dan 77 pasien hipotiroid dianalisis.
Regimen pengobatan hipertiroid didominasi kombinasi methimazol dan
propranolol (50,34%) dan levotiroksin untuk hipotiroid (87%). Efektivitas terapi
tercapai pada 84,6% pasien hipertiroid dan 93,5% pasien hipotiroid. ROTD yang
berkaitan dengan obat antitiroid berupa hipotiroid iatrogenik sebesar 4,3%,
sedangkan hipertiroid iatrogenik sebesar 4%. Usia berpengaruh signifikan terhadap
clinical outcome terapi hipotiroid, sedangkan jumlah obat berpengaruh signifikan
terhadap ROTD antihipotiroid. Potensi interaksi obat mayor ditemukan pada 8,7%
pasien hipertiroid.
Kesimpulan: Penggunaan regimen terapi menunjukkan efektivitas yang baik.
Namun, diperlukan perhatian khusus pada pasien usia lanjut dengan polifarmasi
untuk meningkatkan keamanan pengobatan.
Collections
- Pharmacy [2101]
