| dc.description.abstract | Kampung Kricak yang terletak di tengah kota Yogyakarta, memiliki segala kekhasan kampung yang ada di Indonesia. Sayangnya Kricak memiliki predikat yang kurang baik dan dikenal sebagai Kampungnya Preman dan Banci, meskipun nama tersebut bisa dibilang sangat bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya saat ini. Kampung Kricak bukan lagi kampungnya preman dan banci, melainkan kampungnya para pelaku budaya, para seniman. Organisasi dan paguyuban seni menjadi hal yang sering ditemui, pertunjukan tari, jathilan, dangdut, ketoprak seolah menjadi kegiatan yang rutin diselenggarakan.. Sayangnya perkembangan ini masih belum didukung dengan ketersediaan fasilitas panggung pertunjukan. Diharapkan dengan adanya panggung pertunjukan budaya yang juga dapat berfungsi sebagai ruang berkumpul warga, diharapkan akan meningkatkan nilai budaya Kampung kricak sehingga citra Kampung Preman akan berganti menjadi Kampung Budaya secara perlahan-lahan. Metode partisipatif menjadi pilihan dalam proses perancangan panggung budaya ini karena perancang dan warga bekerja bersama sebagai subjek, tidak hanya sebagai objek. Dengan metode ini keseimbangan proses perancangan lebih terjaga, karena aspirasi warga dapat tersalurkan dengan baik dan perancang membantu mewujudkannya. Dan ternyata aspirasi dan inspirasi warga Kricak mampu melampaui harapan perancang dalam mewujudkan rancangan panggung budaya dan ruang berkumpul ini. | en_US |