Pemanfaatan Limbah Sandblasting dan Glasswool PT Pertamina UP IV Cilacap sebagai Bahan Pembuatan Plafon dengan Cara Solidifikasi
Abstract
Pada PT. Pertamina (UP) IV Cilacap terdapat bermacam–macam limbah padat, baik dari limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan bukan limbah B3. Dimana selama ini belum ada penanganan limbah padat B3 dengan baik, khususnya sandblasting dan glasswool. Untuk meminimalisasi biaya yang disebabkan oleh penanganan limbah ini, alangkah lebih baik jika limbah ini dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna. Salah satunya dengan metode pengolahan solidifikasi limbah sandblasting dan glasswool sebagai plafon. Adapun tujuannya yaitu mengetahui apakah limbah sandblasting dan glasswool yang dimanfaatkan untuk pembuatan plafon dapat mengimobilisasi logam-logam berat, dan untuk mengetahui kuat lentur plafon yang akan disesuaikan dengan standar DIN-1101, mengetahui apakah limbah sandblasting dan glasswool yang dimanfaatkan dapat menghasilkan alternatif bahan bangunan yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan pada skala laboratorium dengan ukuran benda uji 20 x 20 x 1 cm. Bahan susun plafon terdiri dari limbah sandblasting, limbah glasswool, limestone, polivinil asetat, dan epoksi. Penggunaan limbah sandblasting dan glasswool dalam penelitian ini adalah sebagai bahan baku utama, selain itu juga sebagai filler (pengisi). Komposisinya yaitu sandblasting masing-masing 46%, 48%, dan 50%, sedangkan glasswool yaitu masing-masing 2%. Pengujian lindi dilakukan dengan metode Toxicity Characteristics Leaching Procedure (TCLP) untuk logam-logam Pb, Cr, Cu dan Zn menunjukkan bahwa lindi yang terjadi memenuhi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 85 tahun 1999, tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Lindi terbesar adalah Zn, yaitu 3,7490 mg/L sedangkan baku mutu 50 mg/L. Sehingga plafon aman bagi lingkungan jika digunakan, namun nilai ekonomisnya kurang karena memerlukan biaya produksi yang cukup mahal. Sedangkan dari hasil pengujian kuat lentur didapatkan nilai kuat lentur tertinggi adalah pemakaian limbah sandblasting dengan proporsi 46% dan glasswool 2%. Kuat lentur yang dihasilkan yaitu sebesar 26,888 kg/cm2 . Hasil tersebut menunjukkan kuat lentur yang lebih baik dari standar DIN-1101 dimana dengan tebal benda 15 mm, kuat lenturnya sebesar 17 kg/cm2 .
Collections
- Environmental Engineering [1887]
