| dc.description.abstract | Gated community merupakan sebuah istilah baru didalam hunian masyarakat kota kita dewasa ini, gated community ini merupakan kompleks- kompleks perumahan elit yang dibatasi oleh pagar-pagar tinggi serta memiliki satu akses masuk kedalamnya. Sadar maupun tidak, fenomena ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan semakin menipisnya dimensi sosial masyarakat perkotaan. Munculnya fenomena ini juga dipengaruhi oleh semakin bertambahnya tuntutan masyarakat perkotaan akan rasa aman. Dewasa ini permukiman berpagar telah menjadi simbol atau prestise didalam masyarakat kota. Tinggal pada kawasan elit merupakan kebanggaan tersendiri pada masyarakat kita, walaupun hunian tersebut menyebabkan terputusnya hubungan mereka dengan lingkungan sekeliling mereka. Di kota-kota besar, gated communities atau komunitas berpagar cenderung berkembang pesat. Ini dibuktikan dengan makin marak nya permukiman berpagar di sekitar wilayah Yogyakarta pada umumnya, dan sleman pada khususnya (Maharika et al. 2006). Proses pemagaran ruang yang seharusnya merupakan ruang publik kota ini secara teoritis merupakan bentuk upaya defensif masyarakat melalui penciptaan defensible space untuk meminimalisir terjadinya tindak kriminal dilingkungan mereka. Dari beberapa laporan secara umum menunjukan bahwa kriminalitas kota (urban crime) memang berkorelasi dengan munculnya permukiman berpagar (Maharika et al. 2006). Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan yang lebih luas antara persepsi kriminalitas warga yang tinggal di suatu permukiman dengan angka kriminalitas kota yang factual terjadi di permukiman berpagar dalam kurun waktu tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah in-dept case study (studi kasus), sebab metoda tersebut sangat cocok dalam mengungkap fakta-fakta yang berhubungan dengan ilmu sosial. Studi kasus dapat memperkuat disiplin ilmu sosial dengan memberikan contoh yang sistematis. Studi kasus seperti ini juga yang sering digunakan peneliti arsitektural untuk mengungkap makna yang terkandung dalam sebuah lingkungan binaan. Data-data diperoleh pertama kali dari Kepolisian, hal ini untuk memperoleh data tentang angka krimial dari beberapa permukiman dengan berbagai macam kasus kriminalitas (criminal case) yang terjadi di daerah permukiman tersebut. Investigasi digunakan untuk memunculkan "biografi" area permukiman yang menggambarkan profil kriminalitas di area kasus. Data diambil melalui wawancara dan kuisener yang nantinya akan menghasilkan analisa diskriptif kualitatif dengan di dukung data-data kuantitatif bila memungkinkan. Data diambil melalui wawancara dan kuisener yang nantinya akan menghasilkan analisa diskriptif kualitatif dengan didukung data-data kuantitatif bila memungkinkan. | en_US |