Karakteristik Sampah Pemukiman, Dikabupaten Bantul Studi Kasus Kecamatan Banguntapan
Abstract
Munculnya permasalahan sampah di Kecamatan Banguntapan disebabkan oleh karena bertambahnya populasi penduduk yang semakin meningkat, beraneka ragam aktivitas manusia serta budaya masyarakat dalam menangani sampah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui volume, berat jenis dan komposisi sampah yang dapat dimanfaatkan kembali. Komposisi sampah di Kelurahan Jagalan sebanyak sepuluh jenis sampah yang berupa kain bekas, botol plastik, plastik (kemasan, bening, kresek), kertas (karton dan bekas), popok bayi (pampers), sisa makanan dan sampah dari pekarangan. Sama halnya di Kelurahan Singosaren sebanyak sepuluh jenis sampah yang berupa kaca, botol plastik, plastik (kemasan, bening, kresek), kertas (karton dan bekas), popok bayi (pampers), sisa makanan dan sampah dari pekarangan. Volume sampah yang dihasilkan pada Kelurahan Jagalan sebesar 3,03 liter/orang/hari dengan berat sampah sebesar 0,19 kg/orang/hari. Sedangkan pada Kelurahan Singosaren volume sampah sebesar 2,60 liter/orang/hari dengan berat sampah sebesar 0,18 kg/orang/hari. Volume sampah yang paling tinggi dari dua lokasi ini adalah sampah sisa makanan dan sampah dari pekarangan. Berat jenis dari sampah yang dihasilkan pada Kelurahan Jagalan sebesar 0,062 kg/liter dan untuk Kelurahan Singosaren sebesar 0,07 kg/liter Pemasalahan sampah yang terdapat pada dua lokasi penelitan ini dibutuhkan sebuah pengelolaan sampah yang berupa pemilahan sampah. Potensi sampah di Kelurahan Jagalan yang dapat dijual sebesar Rp 872.865/bulan dan Rp 805.200/bulan untuk Kelurahan Singosaren, sehingga dengan jumlah kelurahan sebanyak 75 kelurahan ada di Kabupaten Bantul, maka nilai ekonomis sampah di Kabupaten Bantul dalam kurun waktu satu bulan sebesar Rp 62.927.437,5. Oleh karena itu sampah bukan lagi merupakan barang yang tidak bisa dimanfaatkan namun memiliki potensi ekonomi yang dapat diperoleh dalam pemanfaatan sampah rumah tangga.
Collections
- Environmental Engineering [1887]
