Show simple item record

dc.contributor.authorCipta, Resty Linandi
dc.date.accessioned2026-07-03T02:55:52Z
dc.date.available2026-07-03T02:55:52Z
dc.date.issued2008
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/63972
dc.description.abstractBanyak masyarakat Sumenep yang meninggalkan kebudayaannya karena kurang memahami atau bahkan tidak perduli akan makna yang terkandung didalamnya dan beralih ke kebudayaan yang lebih modern sehingga masyarakat Sumenep merasa asing terhadap kebudayaan sendiri padahal Sumenep memiliki kekayaan seni budaya yang banyak yang bisa dikembangkan, diperkenalkan diseluruh Indonesia maupun Internasional. Terlebih lagi dengan adanya pembuatan jembatan Suramadu akan berpengaruh pada majunya suatu daerah. Kekurangan dalam hasil alam, maka untuk meningkatkan dan mengembangkan daerah Sumenep dengan mengandalkan pariwisatanya yaitu pengadaan festival seni budaya disamping mempromosikan Kabupaten Sumenep. Untuk itu perlu dibangun Pusat festival seni budaya yang mendukung kemajuan daerah Sumenep dengan menitikberatkan pada festival karapan sapi dengan mangangkat permasalahan bagaimana mengolah tata ruang untuk kegiatan karapan sapi dan pendukungnya serta penerapan ciri arsitektural tradisional Sumenep pada bentuk dan elemen ruang dalam dan luar. Beberapa metode pencarian data untuk menjawab permasalahan yaitu survey langsung rumah tradisional Sumenep, arena Karapan Sapi Gilingan, Panggung Ramayana Ballet. Literature media elektronik dan cetak yang berisi tentang arsitektur tradisional Sumenep, macam seni budaya Sumenep. Mengangkat studi kasus yang berhubungan dengan rancangan yaitu el Torro Spanyol dan Panggung Ramayana Ballet. Dari hasil data yang diperoleh kemudian menganalisa standarisasi arena karapan sapi, menganalisa olahan tata ruang dalam dan luar untuk kegiatan karapan sapi dan pendukungnya, menganalisa penerapan arsitektur tradisional Sumenep, mengaplikasikan karakteristik karapan sapi pada lanscape dan kebutuhan ruang karapan sapi serta arsitektur tradisional Sumenep yang kemudian pengembangan desain melalui gambar kerja. Kegiatan yang diselenggarakan bulan Agustus sampai Oktober ini mempunyai karakteristik pertandingan pacuan 2-3 pasang sapi dengan trek panjang ± 180m lebar trek + 60m. Jenis tanah yang digunakan pada lapangan trek tanah datar rumput berpasir. Adanya gerakan atraktif dari sapi memerlukan space yang lebar untuk jaga jarak dengan penonton. Sehingga diperlukan reiling untuk pambatas penonton. Karena karakter yang berbeda maka diberi pemisahan parkir sapi yang berada di belakang arena dan parkir pengunjung, pengelola dan seniman di depan setelah entrance. Pada arena karapan sapi ini dibutuhkan ruang persiapan sapi untuk pemasangan aksesoris keles dan pemijatan sapi sebelum tanding. Karena sapi melaju dengan cepat, maka untuk slowdown sapi diperlukan space sepanjang 30m. Agar otot sapi tidak tegang saat lari, maka dibutuhkan jalur sirkulasi untuk sapi berkeliling melemaskan otot-otot sapi. Dalam memasuki kawasan ini akan disambut berupa tarian-tarian di lapangan pertunjukan terbuka sebelum memasuki arena karapan sapi. Dengan peletakan arena yang berada di tengah dengan lapangan yang memanjang kebelakang, maka tata massa fasilitas pendukungnya menyesuaikan berada di samping kanan kiri arena. Arsitektur tradisional Sumenep diaplikasikan ke dalam bentukan atap, pintu, jendela dan pilar yang mendapat pengaruh dari arsitektur Jawa, Cina dan Eropa. Pemakaian ukiran yang khas serta kekayaan warna Sumenep merah, emas, hijau, biru,dan kuning tidak luput dari mengaplikasikannya ke dalam bangunan.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectkarapan sapien_US
dc.subjectseni budayaen_US
dc.subjectsumenepen_US
dc.titlePusat Festival Seni Budaya Sumenep Penekanan pada Karakteristik Karapan Sapi sebagai Dasar Rancangan Penataan Ruangen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM04512079


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record