| dc.description.abstract | Pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan yang memiliki tingkat potensi kecelakaan kerja
relatif tinggi, terutama pada proyek berskala besar seperti Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo-
Yogyakarta Seksi 2 Paket 2.2B. Salah satu jenis pekerjaan yang memiliki potensi bahaya cukup
besar adalah pekerjaan bored pile, karena melibatkan berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari tahap
persiapan, pekerjaan pengeboran, pekerjaan tulangan Spiral, pekerjaan pengecoran, hingga tahap
Finishing.Sehubungan dengan pentingnya penerapan keselamatan kerja pada setiap tahapan
tersebut, diperlukan suatu metode analisis yang sistematis untuk mengidentifikasi potensi bahaya,
melakukan penilaian tingkat risiko, serta menetapkan langkah pengendalian yang sesuai. Oleh
karena itu, metode HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control)
digunakan sebagai pendekatan dalam menganalisis risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini disusun
dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR)
Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK).
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang timbul pada pekerjaan
bored pile di Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo-Yogyakarta Seksi 2 Paket 2.2B, melakukan
penilaian terhadap tingkat risiko yang ditimbulkan, serta merumuskan upaya pengendalian risiko
dengan menggunakan metode HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining
Control).Data penelitian dikumpulkan melalui studi literatur, penelaahan dokumen Rencana
Keselamatan Konstruksi (RKK), serta pengamatan langsung di lokasi proyek. Selanjutnya, hasil
identifikasi bahaya dan penilaian risiko disusun dalam bentuk tabel HIRADC guna mempermudah
proses verifikasi oleh pihak HSE konsultan sebagai responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh tahapan pekerjaan bored pile, tingkat risiko
awal yang teridentifikasi didominasi oleh risiko sedang (S) sebesar 92,95%, diikuti oleh risiko kecil
(K) sebesar 4,22%, dan risiko berat (B) sebesar 2,81%. Melalui penerapan metode HIRADC,
ditetapkan upaya pengendalian risiko berdasarkan hierarki pengendalian, yaitu rekayasa teknik,
pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri. Penerapan pengendalian tersebut
terbukti mampu menurunkan tingkat risiko, ditunjukkan dengan meningkatnya risiko kecil menjadi
95,77%, menurunnya risiko sedang menjadi 4,22%, serta dihilangkannya risiko berat hingga
mencapai 0%. | en_US |