Sediaan Nanoemulsi Gel Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb) Terstandar Sebagai Penyembuh Luka: Studi In vitro Permeasi Asiatikosida melalui Membran Sintetik Strat-M dan In Vivo Pada Kelinci
Abstract
Asiatikosida merupakan senyawa bioaktif utama dalam herba pegagan
(Centella asiatica) yang memiliki aktivitas penyembuhan luka melalui efek anti-
inflamasi, antioksidan, dan stimulasi sintesis kolagen. Namun, berat molekul yang
relatif besar menyebabkan penetrasi kulit dan bioavailabilitas lokal asiatikosida
menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas sediaan
nanoemulgel ekstrak herba pegagan sebagai penyembuh luka melalui pendekatan
in vitro dan in vivo, serta menganalisis hubungan antara hasil uji tersebut
menggunakan pemodelan farmakokinetik–farmakodinamik (FK–FD). Ekstrak
herba pegagan diformulasikan ke dalam sistem nanoemulsi dan selanjutnya
dicampurkan dengan basis gel untuk menghasilkan sediaan nanoemulgel. Studi in
vitro dilakukan melalui uji permeasi melalui membran sintetik Strat-M dengan
pengambilan sampel pada jam ke-1, 3, 6, 9, 12, 24, 30, 36. Kadar asiatikosida yang
terpermeasi dianalisis menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT) yang telah tervalidasi sebelumnya. Studi in vivo dilakukan pada model
luka sayat punggung kelinci (panjang 1,5 cm, kedalaman 2 mm) dengan kelompok
perlakuan meliputi kontrol positif, kontrol negatif, kontrol basis, sediaan
nanoemulsi dan nanoemulgel. Pengamatan makroskopis dan pengukuran
penyembuhan luka dilakukan pada hari ke-0, 1, 2 4, 6 dan 8. Data hasil uji in vitro
dan in vivo selanjutnya dianalisis menggunakan pemodelan FK-FD popoulasi
dengan perangkat lunak Monolix 2024R1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sediaan nanoemulgel mampu menghantarkan asiatikosida dengan jumlah kumulatif
terpermeasi (QA36) sebesar 1,884 μg/cm2. Pada pengujian in vivo, sediaan
nanoemulgel meningkatkan efektivitas penyembuhan luka hingga 89,43%.
Pemodelan FK-FD populasi menunjukkan adanya kecenderungan hubungan antara
jumlah asiatikosida yang terpermeasi dengan respons penyembuhan luka, dimana
paparan obat berperan sebagai pendorong utama respons biologis dengan estimasi
efek maksimum (Emax) sebesar 71,043%. Hasil evaluasi model menunjukkan bahwa
kesesuaian prediksi belum optimal, sehingga model ini lebih tepat digunakan
sebagai pendekatan eksploratif dalam menggambarkan hubungan paparan-respon
pada sediaan topikal. Secara keseluruhan, formulasi nanoemulgel ekstrak herba
pegagan berpotensi meningkatkan efektivitas terapi penyembuhan luka melalui
peningkatan permeasi dan paparan obat lokal.
Collections
- Master of Pharmacy [52]
