| dc.contributor.author | Heriyanto, Dodik Setiawan Nur | |
| dc.contributor.author | Heriyanto, Dodik Setiawan Nur | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-22T03:44:15Z | |
| dc.date.available | 2026-06-22T03:44:15Z | |
| dc.date.issued | 2026-06-22 | |
| dc.identifier.uri | http://hdl.handle.net/123456789/63614 | |
| dc.description.abstract | Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, muncul secercah harapan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Washington dan Teheran. Kesepahaman yang ditandatangani secara desk-to-desk di sela-sela pertemuan para pemimpin G-7 tersebut diproyeksikan sebagai langkah awal menuju penghentian konflik yang telah menimbulkan korban jiwa, gangguan stabilitas kawasan, serta ancaman serius terhadap keamanan energi global.
Meski demikian, optimisme tersebut tidak serta-merta menghapus keraguan publik internasional. Rekam jejak kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya pada era Presiden Donald Trump, menunjukkan kecenderungan menarik diri dari sejumlah komitmen internasional serta abai dengan hukum internasional. | en_US |
| dc.language.iso | other | en_US |
| dc.publisher | Kedaulatan Rakyat | en_US |
| dc.subject | Iran, Amerika Serikat, Perdamaian | en_US |
| dc.title | Jalan Damai Iran - AS | en_US |
| dc.type | Article | en_US |