| dc.description.abstract | Sepsis merupakan kegawatdaruratan medis dengan mortalitas tinggi dan beban biaya
besar. Kompleksitas terapi meningkatkan risiko Drug-Related Problems (DRPs),
sehingga diperlukan manajemen pengobatan yang optimal. Intervensi farmasi klinis
berpotensi meningkatkan efisiensi biaya dan luaran klinis, namun bukti dalam sistem
pembiayaan Indonesia Case-Based Groups (INA-CBGs) masih terbatas.
Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya intervensi farmasi klinis pada
pasien sepsis dengan membandingkan biaya rawat inap, insidensi DRPs, dan luaran
klinis. Studi kohort retrospektif dilakukan di RS AN-NISA Tangerang (Januari 2023–
Agustus 2025) terhadap 350 pasien sepsis. Data diambil dari Neural Universal
Healthcare Application (NUHA) dan unit keuangan rumah sakit berdasarkan klaim
BPJS Kesehatan (INA-CBGs) serta biaya aktual rawat inap. DRPs diidentifikasi
menggunakan klasifikasi Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) versi 9.0.
Luaran klinis dinilai berdasarkan mortalitas, perbaikan status neurologis (Glasgow
Coma Scale) dan lama rawat inap. Analisis data meliputi statistik deskriptif, regresi
logistik dan linier, analisis survival (Cox regression), serta Cost Effectiveness
Analysis (CEA) dengan perhitungan Cost Effectiveness Ratio (CER) dan Incremental
Cost Effectiveness Ratio (ICER).
Hasil menunjukkan kelompok intervensi memiliki biaya per hari rawat inap yang lebih
rendah, meskipun total biaya perawatan tidak berbeda signifikan.
Analisis survival menunjukkan intervensi farmasi klinis secara signifikan
meningkatkan kecepatan pemulangan pasien (HR 1,601; p=0,030). Insidensi DRPs
pada kelompok intervensi adalah 24,3%, didominasi masalah terkait efektivitas terapi.
Intervensi juga berkaitan dengan penurunan mortalitas yang signifikan (43,1% vs
79,1%; p<0,001). Hasil CEA menunjukkan nilai CER yang lebih rendah dan ICER
yang menguntungkan, menempatkan intervensi farmasi klinis pada Kuadran I yang
menunjukkan peningkatan biaya yang sebanding dengan manfaat klinis yang
diperoleh. Intervensi farmasis klinis terbukti cost-effective dengan nilai tambah klinis-
ekonomi, sehingga layak diintegrasikan dalam kebijakan pelayanan dan pembiayaan
kesehatan nasional. | en_US |