Show simple item record

dc.contributor.authorHutami, Adiendra Aullia Dinda
dc.date.accessioned2026-06-17T03:30:34Z
dc.date.available2026-06-17T03:30:34Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63453
dc.description.abstractIndonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia menerapkan kebijakan hilirisasi melalui larangan ekspor bijih nikel dan kewajiban pembangunan smelter untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Implementasi kebijakan ini memperkuat kebutuhan Indonesia terhadap investasi, teknologi, serta kemitraan strategis, terutama dengan Tiongkok sebagai negara yang memiliki kepentingan besar dalam memperoleh pasokan nikel bagi industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. Dengan menggunakan teori Kerja Sama Internasional yang dikemukakan oleh K.J. Holsti, penelitian ini mengkaji bagaimana kepentingan bersama, tujuan yang saling terkait, serta landasan perjanjian dan transaksi bilateral membentuk pola kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam sektor pengolahan nikel. kerja sama kedua negara terbentuk karena kesesuaian kepentingan, Indonesia membutuhkan investasi dan teknologi, sedangkan Tiongkok membutuhkan pasokan nikel yang stabil. Hilirisasi membawa dampak positif bagi Indonesia, seperti peningkatan ekspor nikel olahan, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan industri baterai, sementara Tiongkok memperoleh kepastian pasokan mineral.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectHilirisasi Nikelen_US
dc.subjectIndonesiaen_US
dc.subjectTiongkoken_US
dc.subjectInvestasien_US
dc.subjectKerja Sama Internasionalen_US
dc.subjectHolstien_US
dc.titleKerja Sama Indonesia-tiongkok pada Hilirisasi Nikel ddi Indonesia (2020-2024)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21323263


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record