| dc.description.abstract | Industri pemintalan benang akrilik menuntut konsistensi kualitas untuk
menjaga daya saing. Salah satu indikator kualitas sliver pada proses drawing adalah
jumlah neps, yang mempengaruhi penampilan benang, kekuatan, kestabilan proses
lanjutan, serta efisiensi produksi. Permasalahan muncul ketika pada kondisi
produksi di PT Hanil Indonesia ditemukan beberapa Order Number (O/N) dengan
jumlah neps melebihi standar mutu perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa
pengaturan parameter proses dan kondisi mekanis mesin belum optimal, sehingga
penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh parameter proses drawing terhadap
jumlah neps pada sliver akrilik. Parameter yang diamati meliputi draft ratio,
kecepatan mesin, dan tekanan rol. Pengujian jumlah neps dilakukan secara manual
menggunakan metode black board pada sampel sliver seberat 20 gram sesuai
prosedur pengendalian mutu perusahaan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa
pada O/N 34RDW2–9503 KA jumlah neps sebesar 11 dengan standar ≤ 10,
sedangkan pada O/N E124AW10–9501 T sebesar 20 dengan standar ≤ 15. Setelah
dilakukan perbaikan melalui pembersihan drafting zone, pemeriksaan mesin, dan
penyesuaian parameter proses, jumlah neps menurun menjadi 7 pada O/N
34RDW2–9503 KA dan 15–16 pada O/N E124AW10–9501 T. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengendalian neps memerlukan pengaturan parameter proses
dan kondisi mesin secara terintegrasi. | en_US |