Show simple item record

dc.contributor.authorArumdapta, Sabiya Faadhilah
dc.date.accessioned2026-06-15T06:30:23Z
dc.date.available2026-06-15T06:30:23Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63412
dc.description.abstractSejak 12 Maret 2025, Australia dikenakan tarif oleh Amerika Serikat (AS) sebesar 25% pada baja dan aluminium. Sebelum tarif diberlakukan oleh AS, Australia telah tergabung dalam ANZUS, AUSFTA, dan AUKUS. Australia secara konsisten mengandalkan hubungan bilateralnya dengan AS. Namun, Australia sempat gagal memperoleh pengecualian tarif. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji determinan kegagalan Australia dalam diplomasi tarif perdagangan bebas dengan AS pada 2022-2025. Rumusan masalah berupa, mengapa Australia gagal melakukan diplomasi tarif perdagangan bebas dengan AS?. Penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran asymmetrical interdependence dari Keohane dan Nye. Asymmetrical interdependence merupakan konsep yang menyoroti dua pihak yang saling membutuhkan tetapi satu pihak mengalami ketergantungan yang lebih besar, maka pihak tersebut cenderung memiliki daya tawar yang lebih lemah. Dalam konsep asymmetrical interdependence terdapat 3 sumber independensi berupa militer, kerentanan non militer, dan sensitivitas non militer. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, temuan sementara menunjukkan bahwa Australia sempat gagal dalam diplomasi tarif perdagangan bebas AS karena Australia belum memiliki independensi militer, kerentanan nonmiliter, dan sensitivitas non militer.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAustraliaen_US
dc.subjectAmerika Serikaten_US
dc.subjectTarifen_US
dc.subjectAsymmetrical Interdependenceen_US
dc.titleDeterminan Kegagalan Australia dalam Diplomasi Tarif Perdagangan Bebas dengan Amerika Serikat (2022-2025)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22323001


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record