| dc.description.abstract | Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di
Indonesia dengan siklus erupsi berkala setiap 2-5 tahun yang
menimbulkan ancaman tinggi bagi keselamatan jiwa, infrastruktur,
dan kesehatan masyarakat. Namun, fasilitas pengungsian
konvensional saat ini seringkali menghadapi masalah fundamental
berupa sifatnya yang temporer, monofungsi, dan terbengkalai
pascabencana karena kurangnya fungsi alternatif. Selain itu, barak
eksisting memiliki defisiensi desain pada sistem ventilasi yang gagal
menyaring abu vulkanik, kurangnya kenyamanan termal, serta
pengabaian terhadap privasi dan kebutuhan psikososial pengungsi.
rancangan ini mengusulkan MERKARTA (Merapi Karya Tangguh),
sebuah selter adaptif di Kecamatan Cangkringan yang dirancang
sebagai infrastruktur hibrida permanen. Tujuan utama perancangan
ini
adalah menciptakan solusi arsitektur yang mampu
bertransformasi untuk melayani tiga fungsi vital sesuai fase
bencana: Pusat Komunitas (prabencana), Selter Pengungsian
(tanggap darurat), dan Hunian Sementara atau Huntara
(pascabencana). Pendekatan perancangan menggunakan metode
Open Building yang memisahkan bangunan menjadi dua sistem:
Support (struktur utama permanen berupa fondasi, kolom, dan atap)
dan Infill (komponen interior fleksibel seperti partisi modular).
Hasil perancangan menunjukkan bahwa sistem Support yang kokoh
berfungsi sebagai wadah aktivitas sosial-ekonomi harian warga
(Pusat Komunitas), sementara sistem Infill memungkinkan
transformasi cepat menjadi barak komunal maupun unit-unit
Huntara privat yang menjamin privasi dan martabat manusia.
Strategi selubung bangunan juga dirancang responsif dengan sistem
filtrasi udara untuk memitigasi paparan abu vulkanik guna menjaga
kesehatan pernapasan. Dengan demikian, MERKARTA menjadi
simbol ketangguhan arsitektur yang resilien, fleksibel, dan
berkelanjutan bagi masyarakat di lereng Merapi. | en_US |