Jamasan Pusaka Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Dalam Tinjauan Sosiologi Antropologi Dan Hukum Islam
Abstract
Masyarakat Jawa secara umum dan Yogyakarta khususnya sangat kental dengan tradisi dan budaya hingga saat ini. Meskipun masyoritas masyarakatnya beragama Islam tetapi dalam kehidupan sehari-hari belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya terkadang tradisi dan budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Salah satu tradisi atau budaya yang masih berjalan hingga sekarang khususnya di Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat adalah jamasan pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Tesis ini memfokuskan pada dua permasalahan, yaitu: Pertama, bagaimana prosesi jamasan Pusaka Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menurut Abdi Dalem Keraton dan masyarakat?. Kedua, bagaimana tinjauan sosiologi, antropologi dan hukum Islam terhadap prosesi jamasan Pusaka Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat?. Adapun metode yang digunakan adalah bersifat deskriptif komparatif dengan pendekatan sosiologi, antropologi dan hukum Islam. Penulis menemukan perbedaan terkait dengan jamasan pusaka yang dipahami oleh pihak Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan masyarakat, yaitu; Pertama, alat, bahan dan tata cara serta prosesi jamasan pusaka. Kedua, kepercayaan masyarakat terhadap benda pusaka baik. Adapun dalam tinjauan sosiologis dan antropologis prosesi jamasan pusaka bukan hanya suatu tindakan budaya dan kepercayaan saja namun sudah mengalami perubahan hingga pada taraf ekonomi yang memiliki nilai jual. Sedangkan jika ditinjau dari sisi hukum Islam, maka didapati dua macam pandangan; Pertama, apabila jamasan pusaka tersebut hanya sebatas membersihkan dan merawat agar awet, dan nilai budaya, maka hukumnya boleh (mubah). Kedua, apabila mengandung unsur yang melanggar syari’at, maka hukumnya adalah haram.
Collections
- Master of Islamic Studies [1824]
