Show simple item record

dc.contributor.authorAbdullah, Cleindhita Kharisma
dc.date.accessioned2026-06-06T02:05:30Z
dc.date.available2026-06-06T02:05:30Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id//123456789/63173
dc.description.abstractLatar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama yang berperan dalam terjadinya berbagai penyakit saluran pernapasan, termasuk rinosinusitis. Paparan asap rokok diketahui dapat menyebabkan gangguan mekanisme mukosiliar, meningkatkan inflamasi mukosa sinonasal, serta memperberat perjalanan penyakit. Tingginya prevalensi perokok dan kasus rinosinusitis di Kabupaten Kebumen menjadikan penting untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian rinosinusitis. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dengan kejadian rinosinusitis di Poliklinik THT RSUD dr. Soedirman Kebumen. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien yang berkunjung ke Poliklinik THT RSUD dr. Soedirman Kebumen periode Januari 2023–Januari 2025. Subjek penelitian berjumlah 236 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik subjek dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara status merokok dengan jenis rinosinusitis. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia pasien adalah 39,14 tahun, dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (75,8%) dan berstatus perokok aktif (64,4%). Sebagian besar pasien didiagnosis menderita rinosinusitis kronis (66,5%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara kebiasaan merokok dengan kejadian rinosinusitis (p = 0,000). Pasien yang merokok memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami rinosinusitis kronis dibandingkan pasien yang tidak merokok, dengan nilai Odds Ratio sebesar 65,320 (95% CI: 27,911–152,868) mengindikasikan bahwa perokok memiliki risiko 65 kali lebih tinggi mengalami rinosinusitis kronis dibandingkan non-perokok. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan peningkatan risiko kejadian rinosinusitis, khususnya rinosinusitis kronis, pada pasien di Poliklinik THT RSUD dr. Soedirman Kebumen. Paparan asap rokok secara persisten memicu kerusakan mukosa permanen dan pembentukan biofilm, yang menjelaskan dominansi kasus kronis pada kelompok perokok dibandingkan kasus akut.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectMerokoken_US
dc.subjectRinosinusitis Kronisen_US
dc.subjectRinosinusitis Akuten_US
dc.titleHubungan Merokok dengan Kejadian Rinosinusistis di Poliklinik THT Rsud dr. Soedirman Kebumen Studi Kasus Periode Januari 2023 – Januari 2025en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21711101


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record