| dc.description.abstract | Latar Belakang : Kesehatan merupakan komponen utama eksistensi manusia,
namun akses pelayanan kesehatan masih menjadi kendala bagi sebagian
masyarakat. BPJS Kesehatan hadir sebagai solusi jaminan kesejahteraan dengan
cakupan kepesertaan yang luas. Meskipun demikian, pelaksanaan di lapangan
masih menghadapi kendala, terutama terkait persepsi waktu tunggu yang lama
dan kualitas pelayanan yang berdampak pada kepuasan pasien. Masalah ini
menjadi krusial bagi pasien penyakit kronis (seperti hipertensi dan diabetes) yang
membutuhkan perawatan medis berkelanjutan, di mana waktu tunggu yang lama
dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis mereka. Penelitian ini berfokus di
Kabupaten Sleman untuk memahami persepsi pasien tersebut terhadap efektivitas
sistem jaminan kesehatan ini.
Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
mendalam dan observasi fasilitas kesehatan. Lokasi penelitian mencakup Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan
Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Kabupaten Sleman. Informan penelitian adalah
pasien peserta BPJS dengan penyakit kronis yang memiliki pengalaman menjalani
alur rujukan dan pelayanan kesehatan.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu di FKTP umumnya
berkisar antara 25–45 menit, yang masih memenuhi standar pelayanan minimal,
meskipun terjadi penumpukan pada hari tertentu seperti Senin. Sebaliknya, di
rumah sakit rujukan, pasien sering menghadapi waktu tunggu yang lama untuk
mendapatkan kamar rawat inap dan penjadwalan tindakan canggih (seperti
kemoterapi) akibat keterbatasan fasilitas dan ruang. Temuan menarik
menunjukkan bahwa pasien penyakit kronis cenderung membentuk pola adaptasi
dan penerimaan terhadap waktu tunggu jika disertai dengan komunikasi yang jelas
dan transparan dari petugas medis. Ketidakjelasan informasi justru menjadi faktor
utama pemicu kecemasan dibandingkan durasi menunggu itu sendiri.
Simpulan : Waktu tunggu bukan sekadar masalah durasi, melainkan pengalaman
multidimensional yang membentuk persepsi mutu pelayanan. FKTP dinilai relatif
efisien, sedangkan hambatan sistemik terjadi pada rujukan berjenjang di rumah
sakit. Kunci peningkatan kepuasan pasien terletak pada transparansi informasi
dan komunikasi empatik untuk mengurangi beban psikologis pasien penyakit
kronis. | en_US |