Show simple item record

dc.contributor.authorFirdaus, Elrian Yudhistira Candra
dc.date.accessioned2026-06-05T06:11:03Z
dc.date.available2026-06-05T06:11:03Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63150
dc.description.abstractLatar Belakang : Kesehatan merupakan komponen utama eksistensi manusia, namun akses pelayanan kesehatan masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. BPJS Kesehatan hadir sebagai solusi jaminan kesejahteraan dengan cakupan kepesertaan yang luas. Meskipun demikian, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi kendala, terutama terkait persepsi waktu tunggu yang lama dan kualitas pelayanan yang berdampak pada kepuasan pasien. Masalah ini menjadi krusial bagi pasien penyakit kronis (seperti hipertensi dan diabetes) yang membutuhkan perawatan medis berkelanjutan, di mana waktu tunggu yang lama dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis mereka. Penelitian ini berfokus di Kabupaten Sleman untuk memahami persepsi pasien tersebut terhadap efektivitas sistem jaminan kesehatan ini. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi fasilitas kesehatan. Lokasi penelitian mencakup Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Kabupaten Sleman. Informan penelitian adalah pasien peserta BPJS dengan penyakit kronis yang memiliki pengalaman menjalani alur rujukan dan pelayanan kesehatan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu di FKTP umumnya berkisar antara 25–45 menit, yang masih memenuhi standar pelayanan minimal, meskipun terjadi penumpukan pada hari tertentu seperti Senin. Sebaliknya, di rumah sakit rujukan, pasien sering menghadapi waktu tunggu yang lama untuk mendapatkan kamar rawat inap dan penjadwalan tindakan canggih (seperti kemoterapi) akibat keterbatasan fasilitas dan ruang. Temuan menarik menunjukkan bahwa pasien penyakit kronis cenderung membentuk pola adaptasi dan penerimaan terhadap waktu tunggu jika disertai dengan komunikasi yang jelas dan transparan dari petugas medis. Ketidakjelasan informasi justru menjadi faktor utama pemicu kecemasan dibandingkan durasi menunggu itu sendiri. Simpulan : Waktu tunggu bukan sekadar masalah durasi, melainkan pengalaman multidimensional yang membentuk persepsi mutu pelayanan. FKTP dinilai relatif efisien, sedangkan hambatan sistemik terjadi pada rujukan berjenjang di rumah sakit. Kunci peningkatan kepuasan pasien terletak pada transparansi informasi dan komunikasi empatik untuk mengurangi beban psikologis pasien penyakit kronis.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.titlePersepsi Waktu Tunggu dan Pelayanan Kesehatan Pada Pasien Penyakit Kronis Peserta BPJS di Kabupaten Slemanen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22711065


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record