| dc.description.abstract | Agresi militer Israel di Gaza pada periode 2023–2024 menimbulkan krisis kemanusiaan yang
luas, korban sipil dalam jumlah besar, serta kerusakan infrastruktur yang signifikan, sehingga
memicu respons solidaritas global dari berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk BDS
Movement Indonesia sebagai bagian dari jaringan gerakan transnasional. Penelitian ini mengkaji
bagaimana BDS Movement Indonesia menjalankan advokasi nonkekerasan dalam merespons
agresi tersebut di ruang publik Indonesia serta bagaimana strategi tersebut membentuk pola
solidaritas kolektif. Analisis menggunakan teori advokasi nonkekerasan dari Jørgen Johansen
yang mengklasifikasikan strategi perjuangan tanpa kekerasan ke dalam bentuk nonviolent
protest, non-cooperation, dan civil disobedience. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui
studi pustaka dan dokumentasi daring, penelitian ini menunjukkan bahwa BDS Movement
Indonesia mengadopsi strategi nonkekerasan yang bersifat pragmatis melalui demonstrasi damai,
kampanye digital, edukasi publik, penyebaran daftar boikot terfokus, serta seruan penghentian
dukungan ekonomi terhadap entitas yang terafiliasi dengan Israel. Strategi tersebut tidak hanya
berfungsi sebagai tekanan moral dan simbolik, tetapi juga memperkuat kesadaran politik
masyarakat serta merefleksikan adaptasi gerakan sosial global dalam konteks nasional tanpa
penggunaan kekerasan. | en_US |