| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan problem solving pada dewasa awal. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan kemampuan problem solving pada wanita menikah. Semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin tinggi kemampuan problem solving pada wanita menikah, dan sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin rendah kemampuan problem solving pada wanita menikah. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 orang wanita menikah dan tinggal di Perumahan Banteng Baru. Subjek yang dipilih adalah subjek yang berusia antara 21-40 tahun. Pengumpulan data menggunakan dua jenis skala, yaitu skala kecerdasan emosional dan skala problem solving. Skala kecerdasan emosional disusun peneliti dengan memodifikasi skala kecerdasan emosional oleh Utami (2002) berdasarkan klasifikasi kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Goleman (1999), yang terdiri dari aspek-aspek kesadaran diri, pengaturan diri, memotivasi diri, empati, dan ketrampilan sosial yang terdiri dari 34 aitem. Skala problem solving disusun peneliti dengan memodifikasi skala problem solving oleh Nailuvar (2003) berdasarkan klasifikasi problem solving yang dikemukakan oleh Ellis & Hunt (1993), yang terdiri dari aspek-aspek mampu memahami masalah, mampu memikirkan suatu rencana, mampu melaksanakan suatu rencana, dan evaluasi yang terdiri dari 44 aitem. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan Product Moment dari Pearson dengan bantuan program SPSS 11.5 for Windows. Hasil uji hubungan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan problem solving pada dewasa awal menunjukkan bahwa kecerdasan emosional pada wanita dewasa awal berhubungan dengan tinggi rendahnya kemampuan problem solvingnya (r=0.831 dengan p-0.000 (p<0.05) hipotesis diterima). Kecerdasan emosional memiliki sumbangan efektif terhadap kemampuan problem solving sebesar 69.1%. | en_US |