Show simple item record

dc.contributor.authorSatria, Muhammad Fadhil Riski
dc.date.accessioned2026-05-30T07:16:31Z
dc.date.available2026-05-30T07:16:31Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63096
dc.description.abstractSelat Taiwan merupakan salah satu kawasan paling rawan konflik di dunia akibat meningkatnya ketegangan antara Tiongkok, Taiwan, dan Amerika Serikat. Kebangkitan Tiongkok di bawah Xi Jinping yang menegaskan Taiwan sebagai bagian dari kedaulatannya mendorong peningkatan tekanan militer dan politik yang semakin intensif. Amerika Serikat di bawah pemerintahan Biden merespons dinamika ini melalui program Foreign Military Sales sebagai instrumen deterens untuk menjaga status quo dan menahan ekspansi Tiongkok. Menggunakan kerangka deterens Steven L. Spiegel yang menekankan komitmen, kapabilitas, dan kredibilitas, penelitian ini menyimpulkan bahwa FMS era Biden memenuhi ketiga unsur tersebut, namun efektivitasnya bersifat parsial karena berhasil mencegah konfrontasi militer langsung tetapi belum mampu menghentikan operasi zona abu-abu Tiongkok secara menyeluruh.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAmerika Serikaten_US
dc.subjectDeterensen_US
dc.subjectKeamananen_US
dc.subjectPertahananen_US
dc.subjectStabilitasen_US
dc.subjectTaiwanen_US
dc.subjectTiongkoken_US
dc.titleUpaya Deterens Amerika Serikat Terhadap Ekspansi Tiongkok Melalui Foreign Military Sales Ke Taiwan 2021-2024en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22323233


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record