| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan menelaah secara empiris proses pengelolaan
sampah pembalut di Pesantren Krapyak dari perspektif fikih
lingkungan dan ekofeminisme. Urgensi penelitian ini terletak pada
kebutuhan mengolaborasikan nilai-nilai Islam yang menekankan
kelestarian alam dengan kesadaran atas dimensi gender dalam tata
kelola sampah pembalut di tingkat komunitas. Limbah pembalut
yang tidak terkelola dengan tepat akan mengakibatkan berbagai
dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan, sementara
pemerintah hingga saat ini belum mempunyai standar operasional
prosedur terkait pengelolaannya. Pondok Pesantren Krapyak
Yayasan Ali Maksum melalui Gerakan Krapyak Peduli Sampah
telah mengelola sampah pembalut secara mandiri sejak 2023.
Keunikan praktik ini memperlihatkan inovasi komunitas sekaligus
memunculkan pertanyaan tentang kebersihan, keamanan, dan
akuntabilitas rantai pengelolaan limbah menstruasi. Metode yuridis
normatif-empiris dengan pendekatan studi kasus diaplikasikan
dalam penelitian ini. Penulis mengumpulkan data melalui observasi,
wawancara, dan studi dokumentasi atas dokumen dan literatur yang
relevan dengan tema penelitian. Data yang telah didapatkan
dianalisis menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah pembalut
meliputi beberapa tahap, pembalut yang telah dibersihkan kemudian
dipisahkan antara kapas, kertas, dan plastiknya oleh santri putri
sebelum diolah menjadi media tanam dan barang berdaya jual.
Praktik pengelolaan sampah oleh Krapyak Peduli Sampah tersebut
secara umum konsisten dengan indikator dalam fikih lingkungan,
yakni tauhid, amanah-khalifah, mizan, maqashid syariah, istislah,
dan sadd-dzari'ah. Sedangkan dari sisi ekofeminisme, mekanisme
pengelolaan sampah tersebut juga sudah merealisasikan prinsip
tanggung jawab kepada alam, solidaritas kosmis, harmoni dengan
alam, relasi setara, serta kepedulian (care). Integrasi antara kedua
perspektif tersebut telah teraplikasikan dalam setiap langkah
pengelolaan sampah pembalut di Pesantren Krapyak sehingga
membentuk model pengelolaan holistik dengan penekanan pada
keamanan ekologis, kesesuaian dengan nilai etis keagamaan, serta
keadilan gender dalam distribusi peran pengelolaan limbah
pembalut. | en_US |