| dc.description.abstract | Era pasar bebas dan kondisi lingkungan yang semakin dinamis menyebabkan banyak perusahaan harus menetapkan strategi yang tepat dan mengimplementasikannya dengan baik agar strategi yang ada lebih dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemakaian sumber daya perusahaan. Sistem pengukuran kinerja merupakan salah satu model yang ada untuk memonitor keberhasilan implementasi strategi objektif yang telah ditetapkan pimpinan perusahaan, tidak terkecuali UKM. Banyak organisasi kecil dan menengah tidak memiliki visi dan strategi yang jelas. Karena Orientasi UKM lebih terfokus pada kinerja operasional lebih mendominasi. Smart system dapat digunakan untuk menyusun parameter pengukuran kinerja. AHP digunakan untuk menentukan bobot kepentingan dari masing-masing kriteria KPI, dengan mengetahui bobot kepentingan, perusahaan dapat menentukan prioritas perbaikan yang harus dilakukan apabila perusahaan memiliki keterbatasan dana atau sumber daya. Adapun sistem penyekoran yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode OMAX (Objective Matrix) untuk setiap KPI.Pada saat pengukuran digunakan konsep Traffic Light System dengan menggunakan tiga warna, yaitu warna hijau (mencapai target), warna kuning (mendekati target), dan warna merah (jauh dari target) dan KPI ini perlu mendapat perhatian khusus pada saat periode berikutnya. Penelitian dilakukan pada 3 UKM yang berada di Desa Wisata Krebet yaitu UKM Ragil, UKM Punokawan dan UKM Yuan Art. Hasilnya diperoleh 20 sasaran strategi objektif dan 21 key performance indikator (KPI) yang digunakan untuk mengukur kinerja UKM. Hasil pengukuran Omax menunjukan masih banyak KPI yang berwarna merah sehingga perlu dilakukan perbaikan. Dengan mengetahui kinerja UKM yang masih rendah (merah) maka sumber maslah bisa diidentifikasi sehingga perbaikan yang dilakukan perusahaan lebih tetap sasaran. | en_US |