Identifikasi Potensi Kerusakan di Kota Bengkulu Akibat Gempabumi dengan Metode HVSR
Abstract
Kota Bengkulu merupakan daerah yang rawan terjadinya gempabumi. Salah satu cara untuk mengurangi dampak bencana dari gempabumi yaitu dengan mengetahui daerah-daerah yang rentan terhadap kerusakan tanah. Saat ini getaran alami tanah (mikrotremor) dapat dimanfaatkan untuk mengetahui potensi kerusakan tanah. Kerusakan tanah ini ditentukan berdasarkan nilai Indeks Kerentanan Seismik (Kg), Peak Ground Acceleration (PGA) dan Ground Shear Strain (y). Dalam penelitian ini gempabumi yang dianalisa ialah gempa Bengkulu 12 September 2007. Dengan magnitudo 8.4 SR, lokasi : 4.44 LS - 101.37 BT dan kedalaman 34 km. Lokasi pengukuran mikrotremor berada di Kota Bengkulu yang berjumlah 52 titik pengukuran dengan tambahan data sekunder berjumlah 15 data. Pengolahan data mikrotremor menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio). Metode ini dapat memberikan parameter faktor amplifikasi (Ag), frekuensi dominan (F),indeks kerentanan seismik (Kg) dan ground shear strain (7). Selanjutnya perhitungan PGA dihitung dengan menggunakan atenuasi Kanai (1966). Nilai Vs30 diperoleh dari hasil inversi kurva H/V dengan software ModelHVSR (Herak, 2007). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah sekitar pantai Kecamatan Muara Bangkahulu memiliki nilai indeks kerentanan seismik yang paling besar yakni 28.34. Sedangkan nilai Ground Shear Strain terbesar saat terjadi gempa Bengkulu 12 September 2007 yaitu di wilayah sekitar pantai Kecamatan Kampung Melayu yakni 0.0028. Nilai PGA terbesar berada di wilayah Kecamatan Teluk Segara yakni 789 gal. Dengan melihat sebaran kerusakannya menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kerusakan dengan indeks kerentanan seismik (Kg), ground shear strain (7) dan PGA. Dengan begitu tingkat kerusakan akibat gempa dapat ditentukan dari parameter indeks kerentanan seismik (Kg), ground shear strain (y) dan PGA.
