| dc.description.abstract | Latar belakang: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat utama di Indonesia, termasuk di Kabupaten Brebes yang
menunjukkan tren peningkatan kasus dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya
beban TB dipengaruhi oleh berbagai faktor demografis, sosial, dan lingkungan,
serta masih adanya tantangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit. Pendekatan epidemiologi digunakan untuk memahami pola distribusi TB
paru berdasarkan orang, tempat, dan waktu sebagai dasar perencanaan intervensi
kesehatan yang lebih efektif.
Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan epidemiologi
kasus tuberkulosis paru berdasarkan distribusi orang, tempat, dan waktu di
Kabupaten Brebes tahun 2020-2024, untuk mengetahui upaya pencegahan dan
pengendalian tuberkulosis paru di Puskesmas Kecamatan Brebes.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan
pendekatan epidemiologi. Data diperoleh dari data sekunder sistem pencatatan
dan pelaporan tuberkulosis serta data pendukung dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Brebes. Variabel yang dianalisis meliputi karakteristik penderita TB
paru berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, komorbiditas,
kepadatan penduduk, serta distribusi kasus menurut waktu dan wilayah. Analisis
data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan pola epidemiologi TB paru.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus tuberkulosis paru di Kabupaten
Brebes selama periode 2020-2024 mengalami peningkatan jumlah terlapor pasien
TB seiring dengan kenaikan CDR pada tahun 2022-2023. Kasus didominasi oleh
kelompok usia produktif, laki-laki, serta wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi
seperti Kecamatan Brebes. Mayoritas kasus merupakan TB sensitif obat dengan
hasil pengobatan lengkap dan sembuh yang cukup tinggi, serta tren penurunan
CFR dari tahun 2020 hingga 2023. masih ditemukan tantangan berupa fluktuasi
CDR dan TSR, rendahnya pemeriksaan kontak, serta keterbatasan skrining
komorbid dan kapasitas diagnostik, yang menunjukkan perlunya penguatan sistem
deteksi dan keberlanjutan pengobatan TB. | en_US |