| dc.description.abstract | Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar di tahun 2013 menunjukkan rata- rata prevalensi hipertensi di seluruh provinsi Indonesia sebesar 25,8%, sedangkan prevalensi hipertensi pada umur > 18 tahun di Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2013 sebesar 25%. Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskuler. Penyakit tersebut bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan yang tinggi. Biaya pengobatan dipengaruhi oleh jenis terapi yang digunakan. Pemerintah mengadakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dalam pelaksanaan menggunakan sistem INA-CBG's. Penyelenggaraan sistem INA- CBG's pada pembiayaan rumah sakit sangat dibutuhkan dalam perencanaan pengobatan sehingga rumah sakit dapat melakukan penghematan biaya. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran terapi dari penyakit hipertensi dan rata-rata biaya riil pasien hipertensi berdasarkan perspektif rumah sakit serta untuk mengetahui perbedaan antara biaya riil dengan tarif paket INA-CBG's 2014. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Jenis biaya yang dianalisis meliputi biaya medik langsung yang terdiri dari biaya periksa, biaya laboratorium, biaya obat hipertensi dan biaya obat penyakit penyerta. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif diperoleh dari rincian biaya tagihan pasien dan gambaran selisih antara biaya riil dengan tarif INA-CBG's dengan cara mengurangkan total tarif INA-CBGS dengan total biaya riil pasien. Analisis statistik yang digunakan yaitu Uji man whitney. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya riil sebesar Rp 200.542. Selisih antara biaya riil dengan tarif INA-CBG's sebesar Rp+12.679.424 dengan uji statistik p=0,00 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata biaya riil dengan rata-rata tarif INA-CBG's. | en_US |