| dc.description.abstract | Latar Belakang: Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea dengan etiologi multifaktorial. Paradigma lama yang mengaitkan patogenesis acne semata-mata pada proliferasi Cutibacterium acnes kini telah bergeser menuju konsep disbiosis atau ketidakseimbangan ekosistem mikrobioma kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan peran mikrobioma kulit dalam patogenesis acne vulgaris. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain scoping review yang mengacu pada pedoman PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses Extension for Scoping reviews). Penelusuran literatur dilakukan pada basis data elektronik meliputi Ebsco, Science Direct, PubMed, ProQuest, SpringerLink, dan Google Scholar dengan batasan publikasi tahun 2015–2025. Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, menghasilkan artikel original research berbahasa Inggris dan Indonesia. Hasil: Dari 1.665 artikel yang diidentifikasi, sebanyak 12 artikel diinklusi dalam tinjauan ini. Hasil sintesis menunjukkan bahwa patogenesis acne vulgaris didorong oleh kondisi disbiosis polimikrobial. Temuan utama mengindikasikan bahwa keparahan acne tidak semata dipengaruhi oleh kuantitas total C. acnes, melainkan oleh dominasi filotipe virulen (IA1 dan IA2) dibandingkan filotipe protektif (IB dan II). Selain itu, hilangnya diversitas bakteri komensal penjaga homeostasis seperti Staphylococcus epidermidis, S. hominis, dan S. caprae, serta adanya interaksi dengan fungi (Malassezia dan Candida), berkontribusi pada pembentukan biofilm, produksi porfirin, dan aktivasi respons inflamasi folikular. Simpulan: Mikrobioma kulit berperan krusial dalam patogenesis acne vulgaris melalui mekanisme disbiosis. Pergeseran keseimbangan dari strain komensal ke strain virulen, penurunan diversitas bakteri protektif, serta interaksi lintaskingdom antara bakteri dan fungi menjadi pemicu utama inflamasi kronis pada acne. | en_US |