Pengukuran Kinerja Supply Chain (Rantai Pasok) Perusahaan Menggunakan Metode Supply Chain Operation Reference 11.0 dan Balance Scorecard (Studi Kasus CV. Sogan Jaya Abadi, Sleman, Yogyakarta)
Abstract
Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif memberikan dampak pada lingkungan bisnis. Hanya perusahaan yang memiliki keunggulan yang mampu memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen serta mampu menghasilkan produk yang bermutu dan cost effective. Hal ini sangat penting bagi perusahaan untuk segera mengevaluasi kinerjanya, karena naik turunnya tingkat pendapatan dapat berdampak pada keuangan perusahaan. Seni batik merupakan penyalur kreasi yang mempunyai beberapa macam arti yaitu tradisi, kepercayaan dan sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat. Upaya untuk menjaga kelestarian batik adalah dengan mengetahui sejauh mana kinerja rantai pasok industri tersebut dan bagaimana upaya untuk meningkatkan kinerjanya. Supply Chain Operation Reference (SCOR) merupakan metode penilaian kinerja rantai pasok dengan menggunakan lima atribut yakni atribut reliability, atribut responsiveness, atribut cost, atribut agility, dan atribut assets management. Pengukuran kinerja rantai pasok dengan metode SCOR ini menyajikan kerangka proses bisnis, indikator kinerja, serta teknologi yang unik untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi antar mitra rantai pasok. Selain menggunakan metode SCOR pengukuran kinerja perusahan juga dapat dihitung dengan metode Balance Scorecard (BSC) dengan memperhatikan empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Penelitian ini akan menunjukkan bagaimana antara perspektif BSC dan SCOR dapat melengkapi satu sama lain demi terciptanya peningkatan kinerja dan efisiensi perusahaan. Dengam menggunakan metode SCOR 11.0 didapatkan hasil setiap atribut adalah; reability sebesar 91.06%, responsiveness sebesar 69.17%, cost sebesar 98.58%, agility sebesar 80% dan assets management sebesar 99.46%. Sedangkan dengan menggunakan metode BSC, KPI dapat ditentukan sasaran peningkatan pendapatan (65%), pemanfaatan investasi (100%) dan pembiayaan operasional (65%). Pada perspektif pelanggan peningkatan jumlah pelanggan (100%), perluasan jaringan pelanggan (100%) dan kepuasan pelanggan (100%). Pada perspektif proses bisnis internal penentuan kapasitas produksi (100%), penurunan tingkat pemborosan (21%), peningkatan kualitas output (0%). Pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran pengembangan SDM (11 Juta/orang) dan produktivitas tenaga kerja (17 Juta/orang).
Collections
- Industrial Engineering [2915]
