| dc.description.abstract | Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol di lingkungan masyarakat dapat berdampak terhadap resistensi bakteri terhadap terapi antibiotik, salah satunya adalah bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Minyak atsiri telah banyak digunakan untuk mengatasi infeksi dan uapnya dapat digunakan sebagai aromaterapi. Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri di Indonesia adalah kayu manis (Cinnamomum burmannii) yang memiliki efek antibakteri. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efektivitas antibiotik ampisilin yang dikombinasi dengan minyak atsiri kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap pertumbuhan bakteri MRSA dan menentukan nilai MID (Minimal Inhibitory Dose) dari minyak atsiri kayu manis (Cinnamomum burmannii) sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan MRSA. Simplisia diisolasi menggunakan metode destilasi uap-air untuk memperoleh minyak atsiri dan identifkasi komponen senyawa kimia minyak atsiri kulit batang kayu manis menggunakan instrumen GC-MS. Metode uji yang digunakan dalam penelitian adalah gas kontak, kemudian antibiotik ampisilin dikombinasi dengan minyak atsiri kulit batang kayu manis untuk membandingkan efektivitasnya dengan ampisilin tunggal. Hasil penelitian menunjukkan nilai MID minyak atsiri kulit batang kayu manis sebesar 3,12 mg/L terhadap MRSA. Hasil uji kombinasi ampisilin dan minyak atsiri kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii) menunjukkan peningkatan sebesar 121,84%. | en_US |