Teknologi Biosensor dalam Penegakkan Diagnosis Penyakit Infeksius: Sebuah Studi Scoping Review
Abstract
Latar Belakang: Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan virus masih
menyumbang beban penyakit terbesar. Namun, metode diagnostik konvensional
seperti kultur, mikroskopi, dan PCR sering kali terkendala oleh durasi waktu yang
lama, biaya tinggi, serta ketergantungan pada fasilitas laboratorium yang
kompleks. Oleh karena itu, pengembangan biosensor muncul sebagai solusi
alternatif yang menjanjikan karena menawarkan kemampuan deteksi yang cepat,
sensitif, spesifik, hemat biaya, dan portabel (Point-of-Care Testing). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan teknologi biosensor dalam
diagnosis infeksius karena virus dan bakteri.
Metode: Sumber data yang digunakan merupakan original article yang membahas
terkait penggunaan teknologi biosensor untuk diagnosis penyakit infeksius akibat
virus dan bakteri, dipublikasikan pada tahun 2020-2025, mengguakan specimen
manusia yang terdiagnosis peyakit infeksius, dan berbahasa Inggris. Database
yang digunakan adalah SCOPUS, Spinger, ScienceDirect, EBSCO, dan Ovid.
Artikel hasil pencarian diseleksi berdasarkan alur PRISMA-ScR.
Hasil: Berdasarkan 30 artikel, didapatkan bahwa teknologi biosensor telah
berkembang pesat sebagai metode diagnostik yang efektif untuk mendeteksi
berbagai patogen bakteri dan virus melalui pendekatan optik dan elektrokimia.
Dalam konteks bakteri, para peneliti telah mengembangkan metode deteksi cepat
untuk C. trachomatis, N. gonorrhoeae, H. pylori, M. tuberculosis, B. melitensis, E.
coli, dan P. aeruginosa. Sementara itu, untuk deteksi virus seperti HBV, HCV, HIV,
T. pallidum, DENV dan SARS-CoV-2, inovasi biosensor melibatkan analisis yang
sensitif. Pengembangan biosensor optik memanfaatkan nanopartikel emas untuk
hasil visual, sedangkan biosensor elektrokimia mengintegrasikan material maju
seperti grafen, Field-Effect Transistor (FET), dan aptamer.
Simpulan: Mekanisme kerja biosensor terbagi menjadi dua pendekatan utama,
optik dan elektrokimia. Sensitivitas deteksi ditingkatkan dengan penggunaan
nanopartikel seperti grafen dan silver nanoforest. Waktu deteksi paling cepat 10
menit.
Collections
- Medical Education [2953]
