| dc.description.abstract | Latar Belakang: Kasus penganiayaan di Yogyakarta terus menunjukkan
peningkatan. Pada tahun 2023, POLDA DIY mencatat 12.061 kejadian kriminal,
termasuk 19 kejahatan yang menyebabkan kematian, 765 kejahatan terhadap
fisik. RS Bhayangkara POLDA DIY sebagai rumah sakit rujukan utama dalam
penanganan kasus kekerasan memiliki peran penting dalam mengidentifikasi pola
luka dan bentuk kekerasan, sehingga penting dilakukan analisis karakteristik luka
untuk mengetahui pola kekerasan.
Tujuan Penelitian: Mengetahui karakteristik luka akibat penganiayaan pada
kasus hidup dan kasus mati di RS Bhayangkara POLDA DIY tahun 2020–2024.
Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif deskriptif observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Data dari Visum et Repertum, pengambilan total
sampling terhadap seluruh kasus penganiayaan.
Hasil Penelitian: Didapatkan 158 data awal, sebanyak 121 sampel memenuhi
kriteria inklusi. Kasus mati sebanyak 63 dan kasus hidup sebanyak 58. Mayoritas
individu berusia 17–25 tahun sebanyak 38 dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak
82. Kejadian terbanyak pada waktu 18.00–04.00 sebanyak 70, hari Selasa
sebanyak 23, bulan Oktober sebanyak 19, dan tahun 2024 sebanyak 51. TKP
paling banyak di wilayah Sleman sebanyak 57. Jenis penganiayaan terbanyak,
penganiayaan umum sebanyak 105. Kekerasan tumpul, jenis kekerasan paling
sering sebanyak 92 dan menjadi penyebab kematian terbanyak, terutama pada
regio kepala sebanyak 26. Jenis luka terbanyak, luka memar yaitu 88 dan lokasi
luka terbanyak pada kepala, yaitu 167. Sebagian besar individu mengalami jumlah
1–5 luka sebanyak 49.
Kesimpulan: Kasus penganiayaan didominasi oleh laki-laki usia dewasa muda
dengan pola kejadian malam hari dan lokasi terbanyak di Sleman. Kekerasan
tumpul, terutama pada kepala, merupakan penyebab luka dan kematian yang
paling sering ditemukan. | en_US |