| dc.description.abstract | Indonesia konsisten menempati peringkat teratas sebagai negara yang dermawan menurut
World Giving Index, namun praktik filantropi digital masih menghadapi masalah
transparansi, akuntabilitas, dan penurunan kepercayaan akibat kasus penyelewengan dana.
Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi teknologi blockchain dalam meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas filantropi di Indonesia, dengan mengadaptasi kerangka
Blockchain-Based Donation Traceability (BBDT) pada platform crowdfunding donasi,
serta mengevaluasi efektivitas dan penerimaan pengguna terhadap prototipe sistem yang
diusulkan. Penelitian menggunakan metode Design Science Research dengan studi kasus
pada dua lembaga filantropi nasional, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Human
Initiative (HI). Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi alur
sistem donasi, serta survei daring terhadap 180 responden. Artefak yang dikembangkan
berupa prototipe sistem donasi berbasis blockchain Ethereum menggunakan jenis
blockchain public-permissioned dengan tiga smart contract utama, yaitu Join, Charity, dan
Wallet, serta arsitektur on-chain dan off-chain yang mendukung fitur pendaftaran role,
pembuatan dan verifikasi kampanye, donasi, pencairan dana bertahap berbasis kampanye,
pelacakan transaksi, dan fitur bantu kampanye. Prototipe didemonstrasikan pada jaringan
lokal Ganache dengan menggunakan ETH testnet, dan dompet digital MetaMask
digunakan sebagai identitas pengguna. Setelah itu, prototipe dievaluasi melalui wawancara
pakar, analisis tematik terhadap tanggapan publik, serta simulasi biaya gas transaksi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa prototipe mampu memfasilitasi keterlacakan donasi,
memperkuat jejak audit, dan meningkatkan persepsi transparansi serta kepercayaan
terhadap lembaga filantropi. Meskipun demikian, hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa
adopsi secara luas masih terdapat tantangan yakni kesenjangan literasi digital,
kompleksitas penggunaan dompet digital kripto, biaya transaksi (fee gas) , serta kebutuhan
kejelasan regulasi dan pandangan fiqh terkait aset kripto. Simulasi biaya transaksi dalam
menguji donasi minimum yang ekonomis berada pada kisaran minimal Rp 50.000 dengan
asumsi potongan biaya administrasi 10%. Lembaga dan responden publik cenderung
mengusulkan pada model hybrid, yaitu transaksi donasi tetap menggunakan Rupiah
melalui payment gateway sementara blockchain difungsikan sebagai lapisan pencatatan dan pelacakan. Penelitian ini menghasilkan bukti awal dan rancangan prototipe yang dapat
menjadi acuan desain penerapan BBDT yang lebih sesuai dengan konteks ekosistem
filantropi digital di Indonesia. | en_US |