| dc.description.abstract | Pemekaran wilayah administrasi kecamatan di Kota Pekanbaru pada akhir tahun 2020
membawa konsekuensi logis berupa kewajiban pembaruan data kependudukan bagi
ratusan ribu warga terdampak. Sebagai respons strategis, Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil (Disdukcapil) meluncurkan aplikasi layanan mandiri SIPENDUDUK
untuk memfasilitasi proses tersebut secara daring. Namun, realisasi pembaruan data di
lapangan masih belum mencapai target yang diharapkan, mengindikasikan adanya
hambatan dalam penerimaan layanan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis faktor-faktor determinan yang memengaruhi penerimaan layanan
SIPENDUDUK dengan mengembangkan model integrasi yang menggabungkan
Technology Acceptance Model (TAM), Information Systems Success Model (Delone &
McLean), serta variabel eksternal Digital Literacy dan Trustworthiness. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan dari 400
responden yang berdomisili di wilayah pemekaran dan dipilih menggunakan teknik
purposive sampling dengan kriteria inklusi pengguna aktif. Analisis data dilakukan
menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS).
Selain pengujian hipotesis, penelitian ini juga melakukan uji bias non-respons untuk
memetakan karakteristik pengguna awal (early adopters) dibandingkan pengguna akhir
yang merepresentasikan populasi umum. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model
yang diusulkan valid dalam menjelaskan fenomena adopsi. Hasil analisis menyoroti bahwa
Trustworthiness (Kepercayaan) merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi niat
penggunaan (β=0,488), melampaui pengaruh persepsi kegunaan maupun kemudahan.
Digital Literacy terbukti menjadi anteseden krusial yang membentuk persepsi positif warga
terhadap teknologi. Analisis bias non-respons mengungkap adanya kesenjangan persepsi
yang signifikan; kelompok responden awal memiliki tingkat kepercayaan dan literasi yang
jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok responden akhir yang cenderung skeptis dan
terkendala masalah teknis infrastruktur. Selain itu, rendahnya nilai R pada variabel Usage
Behavior (9,1%) mengonfirmasi bahwa penggunaan layanan kependudukan bersifat
insidentil (event-based) dan sangat bergantung pada pemicu kebutuhan administratif,
bukan merupakan aktivitas habitual.Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa hambatan utama adopsi bukan sekadar masalah teknis, melainkan defisit kepercayaan dan
kesenjangan literasi digital. Penelitian ini merekomendasikan Disdukcapil untuk beralih
dari strategi pelayanan pasif menuju strategi proaktif "Jemput Bola" berbasis komunitas.
Strategi ini melibatkan penggunaan kader digital untuk mendampingi warga dengan literasi
rendah dan membangun kepercayaan melalui interaksi tatap muka, serta prioritas pada
peningkatan stabilitas sistem untuk mereduksi persepsi risiko keamanan. | en_US |