Uji Sensitivitas dan Spesifitas Metode Tes Cepat Molekuler (Tcm) Dalam Mendiagnosis Mycobacterium Tuberculosis Pada Pasein Tb Paru Di Puskesmas Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir
Abstract
Tuberkulosis (TB) menjadi beban kesehatan global, 10,8 juta kasus dan 1,25 juta
kematian pada 2023 menurut WHO. Indonesia salah satu negara terdampak sekitar
10 % dari kasus global, dengan 724 000 kasus baru pada 2022 dan meningkat menjadi
809 000 pada 2023. Provinsi Sumatera Selatan ditemukan 54.892 kasus baru TB,
Kabupaten ogan ilir sebanyak 928 kasus baru. Metode diagnostik mikroskopi memiliki
kelemahan dalam deteksi dini dan resistensi obat. Tes Cepat Molekuler (TCM/Xpert
MTB/RIF) mampu deteksi TB dan resistensi rifampisin secara cepat dan akurat.
Strategi pengendalian TB harus memperkuat akses metode molekuler, integrasi dengan
skrining aktif, dan peningkatan deteksi resistensi. Penerapan TCM penting untuk
percepatan diagnosis dan terapi tepat waktu, mengurangi penularan, dan kematian.
Untuk mengetahui efektivitas, sensitivitas dan spesifisitas maka metode TCM
dibandingkan dengan metode gold standart dalam mendeteksi TB. Metode penelitian
Comparative Diagnostic Study, dengan desain Cross-sectional secara deskriptif,
periode pengambilan sampel dari oktober 2024 hingga April 2025, dengan melibatkan
pasien yang memenuhi kriteria inklusi 380 pasien. Sampel berupa dahak dan dianalisa
menggunakan metode mikroskopis dengan pewarnaan Ziehl Nelseen dan metode TCM
Xpert MTB/RIF. Hasil penelitian didapatkan metode TCM menunjukkan Sensitivitas
100 % (TP 33, FN 0), Spesifisitas tinggi 95,1 % (TN 330, FP 17), PPV 66 %, NPV
100 %, Akurasi total 95,5 %, dan FDR 34 %, LR+ 20,41 dan LR– 0 menunjukkan
kemampuan yang baik dalam rule-in dan rule-out TB. DOR tak terhingga (∞). Dapat
disimpulkan metode TCM yang ada di puskesmas Tanjung Batu memiliki performa
yang baik dan direkomendasikan sebagai metode skrining utama deteksi awal TB di
wilayah Kabupaten ogan ilir.
Collections
- Master of Pharmacy [35]
