| dc.description.abstract | Fenomena bahwa putus cinta seringkali menimbulkan tekanan emosional yang
signifikan, terutama pada individu usia dewasa awal yang berada pada tahap
perkembangan pencarian identitas dan pembentukan relasi intim. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan penerimaan diri dengan distres karena
putus cinta pada dewasa awal. Penerimaan diri dipandang sebagai salah satu
faktor protektif yang dapat menurunkan tingkat distres pasca putus cinta.
Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek
penelitian berjumlah 204 individu dewasa awal berusia 18–35 tahun yang pernah
mengalami putus cinta dalam satu tahun terakhir, dengan teknik pengambilan
sampel purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Breakup Distress Scale
dari Field yang sudah diadaptasi ke bahasa Indonesia, serta skala self-acceptance
dari Powell yang dikembangkan oleh Fatonah dan Husna. Analisis data
menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat kuat dan signifikan antara
penerimaan diri dengan distres karena putus cinta (r = -0,821; p < 0,001). Artinya,
semakin tinggi tingkat penerimaan diri individu, semakin rendah tingkat distres
yang dialami pasca putus cinta. Nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,675
mengindikasikan bahwa penerimaan diri memberikan kontribusi sebesar 67,5%
terhadap variasi distres, sedangkan 32,5% dipengaruhi faktor lain di luar
penelitian. Analisis tambahan menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan
penerimaan diri maupun distres karena putus cinta berdasarkan jenis kelamin. | en_US |