Show simple item record

dc.contributor.authorMubarak, Muhammad Rizky
dc.date.accessioned2026-04-15T03:38:22Z
dc.date.available2026-04-15T03:38:22Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/61535
dc.description.abstractPenelitian ini mengkaji bagaimana narasi Chinese Exceptionalism diperkuat dalam pelaksanaan Belt and Road Initiative (BRI) serta sejauh mana konsistensinya dengan realitas implementasi di negara-negara mitra. Masalah utama yang diangkat adalah adanya kesenjangan antara citra Tiongkok sebagai kekuatan besar yang damai, inklusif, dan reformis dengan praktik BRI yang kerap menunjukkan kontradiksi politik dan ekonomi. Kerangka pemikiran penelitian ini menggunakan konsep Chinese Exceptionalism dari Zhang yang mencakup tiga komponen utama: Great Power Reformism, Benevolent Pacifism, dan Harmonious Inclusionism. Argumen sementara penelitian ini adalah bahwa BRI berfungsi sebagai instrumen diplomasi normatif untuk memperkuat citra global Tiongkok, namun tidak sepenuhnya mencerminkan prinsip moral dan inklusif yang diklaimnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga komponen tersebut hanya diperkuat secara parsial, dengan dominasi kepentingan ekonomi dan geopolitik yang sering kali menimbulkan ketergantungan serta ketimpangan di negara mitra. Dengan demikian, Chinese Exceptionalism dalam konteks BRI lebih berperan sebagai retorika politik daripada prinsip yang konsisten diimplementasikan dalam praktik kerja sama internasional.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectBelt and Road Initiativeen_US
dc.subjectChinese Exceptionalismen_US
dc.subjectIdentitas Nasionalen_US
dc.subjectTiongkoken_US
dc.titleAnalisis Chinese Exceptionalism: Peran BRI dalam Memperkuat Chinese Exceptionalism Pada Tiongkok Kontemporer (2013-2023)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21323092


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record